Kamis, 25 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB) bagian 2



Oleh : Sang Misionaris.



Para penulis buku yang sekarang terdiri dari Perjanjian Baru (PB) tidak bermaksud agar tulisan mereka menggantikan atau menyaingi Perjanjian Lama (PL). Kitab Kristen pada awalnya dimaksudkan sebagai dokumen utilitarian, untuk menanggapi kebutuhan spesifik gereja mula-mula. Seiring dengan berjalannya waktu lebih dari seratus tahun setelah Yesus, orang-orang Kristen mulai menggunakan istilah Perjanjian Baru untuk merujuk pada tulisan suci bahwa gereja yang baru lahir itu mulai dipandang sebagai satu unit yang suci. Orang Kristen mula-mula memandang PB sebagai penggenap atas janji yang terdapat pada PL, dan bukan sebagai pengganti dari kitab suci Yahudi. PB seperti yang kita ketahui sekarang ini, terdiri dari dua puluh tujuh buku, namun aslinya tidak ditulis sebagai keseluruhan yang koheren dan Yesus sendiri tidak memproduksi catatan tertulis tentang pekerjaannya tersebut. Meskipun PB yang sekarang dimiliki oleh Kristen ditulis pada abad pertama, tetapi dibutuhkan waktu yang panjang untuk diterima sebagai otoritas universal. Awalnya, hanya kehidupan dan ucapan Kristus yang dianggap sama dengan kitab suci Perjanjian Lama. Misalnya, Hegessipus pada paruh pertama abad kedua hanya menerima hukum, para Nabi, dan hak Tuhan, sebagai norma-norma yang dianggap sebagai iman yang benar.1 Lalu pada paruh pertama abad ketiga di Suriah Utara, menyatakan bahwa norma otoritatif adalah kitab suci dan Injil Allah.2




Dalam satu setengah abad pertama sejarah Gereja, tidak ada satu pun tulisan Injil yang secara langsung diketahui, diberi nama, atau dengan cara apapun yang dikenalkan dengan kutipan. Semua tulisan Injil adalah anonim, termasuk Injil yang saat ini diimani oleh Kristen. Tradisi tertulis dan lisan berjalan secara berdampingan atau saling silang, dalam memperkaya atau mendistorsi satu sama lain.3 Selain Injil Lisan, Diatessaron berfungsi sebagai Injil alternatif. Diatessaron adalah harmonisasi atau keselarasan dari empat Injil, yang ditulis sekitar tahun 150-160 Masehi oleh Tatian. Karyanya tersebut, beredar luas di gereja-gereja yang berbahasa Syria. Kala itu, Diatessaron dijadikan sebagai teks standar Injil mereka, sampai digantikan oleh Peshitta pada abad kelima Masehi. Penggunaan Diatessaron menunjukkan bahwa keempat Injil tersebut dianggap sebagai otoritas penting, namun bukan sebagai otoritas yang bersifat eksklusif. Hal tersebut disebabkan, karena isi Diatessaron telah menghilangkan silsilah Yesus pada Injil Matius dan Lukas, disamping adanya penolakan dari Tatian tentang adanya pernikahan. Diatessaron dengan sendirinya merupakan kitab suci Perjanjian Baru untuk gereja-gereja Syria sampai empat belas surat Paulus ditambahkan pada abad ketiga.4

Dan untuk jangka waktu yang cukup lama, kita melihat bahwa banyak orang Kristen (terutama di Suriah dan mereka yang berasal dari latar belakang Yahudi) hanya menerima Injil di samping PL yang menjadi Kitab Sucinya. Selanjutnya, banyak yang menerimanya dalam bentuk Injil Lisan atau Injil Lisan dan Injil (di mana Injil tertulis, kemungkinan berisi lebih banyak atau lebih sedikit daripada buku yang diterima saat ini). Meskipun pada akhirnya Diatessaron ditolak, dan Tatian dianggap sesat oleh Bapak Gereja lainnya, hal tersebut tidak menutup kenyataan berdasarkan historis, bahwa Tatian yang pernah menjadi muridnya Justin Martir, dan anggota gereja,5 telah menginformasikan kepada kita bahwa Injil anonim di zaman patristik telah beredar luas dan mengisyaratkan, jika baca tulis pada saat itu telah berkembang. Dari kondisi tersebut, tentunya siapapun bisa menulis apapun atas segala informasi yang dia dapatkan dari siapapun dan yang dia ingat tentang Yesus, meskipun pada kenyataannya bukan sebagai saksi mata. Dan kenyataan tersebut, diperkuat dengan adanya penuturan dari seorang Profesor Perjanjian Baru, yang bernama Profesor Fuller :
"Dari 27 kitab Perjanjian Baru, hanya surat-surat Paulus yang asli, yang secara tegas, kesaksian dari seorang saksi apostolik. Dan bahkan Paulus bukanlah saksi sejarah Yesus. Sejak saksi paling awal tidak menulis apa-apa, tidak ada satu buku pun dalam Perjanjian Baru yang merupakan karya langsung seorang saksi mata Yesus historis.” 6



Melimpahnya Naskah Perjanjian Baru (PB).
Saat ini, ada sekitar 5.686 naskah Yunani untuk Perjanjian Baru. Selain itu, ada lebih dari 19.000 salinan dalam bahasa Syria, Latin, Koptik, dan Aram, yang totalnya lebih dari 24.000. Mengingat fakta bahwa tidak ada tulisan tangan dari naskah Yunani yang dibaca sama persis, setiap orang yang terlibat dalam membuat edisi teks cetak atau terjemahan bahasa Yunani ke dalam bahasa modern, harus berjuang dengan adanya keragaman tekstual. Erasmus melakukannya, para penerjemah King James Version (KJV) melakukannya, dan ilmuwan modern pun terlibat dalam tugas yang sama. Lahirnya silang pendapat diantara para sarjana kritik tekstual mengenai ayat-ayat mana saja yang terbukti bisa dipercaya dengan yang tidak, hal tersebut mengindikasikan bahwa Alkitab yang saat ini diyakini sebagai Firman Tuhan oleh Kristen, ternyata telah ditentukan di kemudian hari oleh orang-orang yang masa hidupnya jauh dengan para penulis kitab Perjanjian Baru.
   
Dari melimpahnya naskah Perjanjian Baru, yang tentunya antara naskah yang satu dengan yang lainnya tidak ada yang identik, maka tidak ada jalan lain dalam melakukan kompromi, selain menggunakan metode eklektik. Dan, metode eklektik yang diterapkan pada naskah Perjanjian Baru, dasarnya pun tidak jelas, apakah eklektik didasari oleh banyaknya jumlah naskah ataukah memang berdasarkan kualitas naskah itu sendiri (jenis teks, usia teks, dan lain-lain) ? Dengan adanya metode eklektik yang telah diterapkan, justru hal tersebut telah melahirkan klasifikasi terhadap banyaknya naskah Perjanjian Baru, seperti naskah Aleksandria, Barat, Kaisarea, dan Bizantium. Jika Perjanjian Baru Yunani yang digunakan oleh Kristen saat ini berdasarkan pada edisi eklektik (teks-teks kritis), apakah hal tersebut menandaskan bahwa Kristen mempunyai teks asli ? Tentu tidak. Karena pada dasarnya, metode yang digunakan dalam merevisi Alkitab, adalah sebuah upaya dalam merekontruksi teks agar teks yang direvisi mampu mendekati teks aslinya, dan bukan bermaksud untuk memproduksi teks asli.


Persoalan Teks Perjanjian Baru.
Dengan banyaknya sumber yang terdapat pada PB, hal tersebut bukan berarti menguatkan pendapat bahwa PB yang saat ini diimani oleh Kristen, terbukti memiliki kebenaran dan isinya terinspirasi. Justru hal tersebut, mengisyaratkan adanya kelemahan atas argumentasi yang dibangun oleh para apologetik Kristen dalam membuktikan otoritas PB. Dan supaya yang disampaikan tidak dianggap sebagai aksioma, tentunya penulis akan memberikan buktinya secara realistis sebagai berikut :

1. Injil Yohanes 7:39.
“Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sbab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”
Kata “Roh itu” didalam Injil Yohanes 7:39 disalin secara berbeda, paling sedikit oleh 5 kelompok salinan kuno (codex dan manuskrip), seperti 7 :

a. Roh : terdapat pada P66c, P75, K, T, Θ, Ψ.
b. Roh Kudus : L, W, X, Γ, Δ.
c. Roh Kudus atas mereka : Codex Bezae, terjemahan kuno Gothis
d. Roh telah diberikan : Leksionari, Eusebius.
e. Roh Kudus telah diberikan : Codex Vaticanus, salinan minuskul 053 dan 1230

Dan untuk menguatkan argumentasi yang ada, penulis akan menyertakan beberapa versi Alkitab yang dimiliki. Seperti :

Yohanes 7:39, tertulis : Roh dan Rohu’lkudus.8

Yohanes 7:39, tertulis : Roh Allah.9

Yohanes 7:39, tertulis : Spirit dan Holy Ghost.10

Yohanes 7:39, tertulis : Roh dan Roh itu.11

Berdasarkan fakta di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa kata yang dicatat salinan kelompok lain yang berbunyi : Roh Kudus; Roh Kudus atas mereka; Roh telah diberikan; Roh Kudus telah diberikan; Roh Allah. Dari kata “Roh” atas Yohanes 7:39, ternyata telah mengalami interpolasi dalam bentuk penafsiran, misalnya, dengan kata “telah diberikan”. Selain itu, foto yang penulis tampilkan di atas, dengan cetakan tahun 2014 dan 1964, ternyata terdapat satu ayat, yang ayatnya secara penuh telah diberikan tanda kurung. Artinya, ayat tersebut bukanlah kalimat asli, melainkan kalimat tambahan yang diberikan oleh seorang korektor atau penyalin di kemudian hari.

2. Markus 16:9-20.
Jika seorang pembaca PB mempunyai sedikit ketelitian dalam membaca, ditambah mempunyai beberapa versi Alkitab lainnya, maka dengan mudah bisa menemukan dari beberapa versi Alkitab, ada yang membagi Markus 16:8 menjadi dua bagian yang diberi spasi dengan lebar. Setelah ayat 8, disusul sebuah paragraf baru dengan subjudul yang baru pula, yaitu Markus 16:9-20. Adanya tata letak tersebut, berkaitan dengan isi salinan kuno yang tidak sama. Secara garis besarnya, salinan-salinan tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok 12 :

a. Dua salinan PB dari bahasa Yunani tertua yaitu א, B, kemudian MS 304, salinan Syria Sinaitik, salinan Armenian, salinan Georgian, hanya menyalin Injil Markus 16:8. Persisnya berhenti pada kata-kata εφοβουντο γαρ (karena mereka merasa takut).
b. Salinan Latin Kuno, mencantumkan kalimat berikut setelah Markus 16:8 dan menjadikan kalimat yang ada menjadi dua ayat. Seperti,
“9 Wanita-wanita itu pergi kepada Petrus dan teman-temannya, lalu menceritakan dengan singkat semua yang sudah diberitahukan kepada mereka oleh orang muda itu. 10 Setelah itu, Yesus sendiri melalui pengikut-pengikutnya mengabarkan dari timur ke barat berita yang suci dan abadi mengenai keselamatan yang kekal.”
c. Dalam salinan A, C, D, E, H, Γ, Δ, Π, Σ, Ω, dan masih banyak yang lain, terdapat Markus 16:9-20. Hasil salinan ini dinamakan bagian akhir yang panjang dalam Injil Markus.

Markus 16:9-20.13

Markus 16:9-20.14

Markus 6:9-20.15

Markus 16:9-20.16


Terkait tentang adanya perbedaan pada akhir ayat di Injil Markus, Pdt. Hasan Sutanto memberikan komentarnya sebagai berikut,
“Salinan yang mencantumkan Markus 16:9-20 bermutu, dan penambahan kedua belas ayat ini dilakukan pada masa yang cukup awal. Tetapi rupanya salinan yang berhenti pada Markus 16:8, persisnya pada kata-kata “karena mereka merasa takut”, lebih dekat dengan naskah asli. Karena kata-kata yang tercatat di Markus 16:9-20 tidak ditemukan pada bagian lain dalam kitab Injil ini. Bahkan ada beberapa kata tidak dapat ditemukan dalam PB. Kontruksi sintaksis bagian ini terasa ganjil, dan hubungan antara ayat 8 dan 9 juga tidak halus. Ini menunjukkan bagian ini tidak termasuk dalam Injil Markus, walaupun bukan tidak mungkin Markus menulis ulang apa yang ia peroleh dari sumber lain. Akhir ayat 8 memang agak aneh, apalagi diakhiri dengan kata γαρ. Sangat mungkin masih ada kata-kata lain setelah kata ini. Mungkin hal ini mendorong para penyalin melakukan berbagai penyempurnaan.” 17


Suatu hal yang ironis, terkait penulisan Alkitab yang selama ini diyakini oleh Kristen, bahwa para penulis tersebut selalu mendapatkan inspirasi atau ilham dari Roh Kudus, ternyata pada akhirnya menuai polemik di kalangan internal Kristen sendiri. Yang secara faktual, terjadinya perbedaan isi ayat disebabkan adanya perbedaan sumber yang digunakan. Lalu, dengan banyaknya perbedaan di antara naskah yang satu dengan yang lain, apakah bisa dikatakan bahwa semua naskah yang ada terinspirasi atau sebagian naskah saja yang diyakini terinspirasi ? Padahal, kebenaran yang bersifat faktual harus didasarkan pada fakta, dan bukan sekedar relasi ide, atau dengan kata lain, bahwa hal yang bersifat kontradiksi tidak bisa dipakai untuk memastikan kebenaran suatu pengetahuan faktual.

Dengan melimpahnya naskah PB, hal tersebut telah melahirkan klasifikasi yang disesuaikan berdasarkan geografis, masa diproduksinya, jenis penulisan naskah, dan lain-lain. Pada awalnya, ditetapkan pengklasifikasian naskah oleh para sarjana tekstual hanya untuk memudahkan penelitian terhadap suatu naskah, selain berusaha untuk melakukan rekontruksi ulang terhadap isi PB. Tetapi pada kenyataannya, pengklasifikasian tersebut telah melahirkan polemik di berbagai kalangan internal Kristen, baik dari kalangan sarjana Kristen sampai kepada jemaat biasa. Sikap mereka tersebut semakin terlihat jelas dari kecendrungan dalam menggunakan Versi Alkitab tertentu dan melakuka penegasian terhadap versi lainnya, baik versi Alkitab yang hanya menggunakan naskah dari Bizantin, ataupun Alexandria, dan bahkan keduanya, seperti yang terjadi pada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Pada dasarnya, terjadi perevisian Alkitab dikarenakan adanya keinginan untuk mencocokkan suatu terjemahan terhadap suatu naskah salinan yang diinginkan oleh korektor atau suatu lembaga. Tetapi, Kristen selalu berkilah, bahwa revisi yang dilakukan itu hanya untuk menyesuaikan perkembangan bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Suatu hal yang tidak logis, jika suatu revisi yang dilakukan beralasan untuk menyesuaikan suatu terjemahan dengan perkembangan bahasa yang ada, tetapi pada kenyataannya melakukan interpolasi terhadap suatu ayat. Misalnya, saat seorang korektor atau lembaga, awalnya menerjemahkan suatu kalimat seperti ini : “Setelah mereka itu makan, bertanjalah Jesus kepada Simon Peterus : “Hai Simon, anak Jahja, adakah engkau mengasihi Aku lebih daripada orang-orang ini?...”18 Jika orang Indonesia membaca rangkaian kalimat dengan seperti itu, pasti memahaminya, bahwa kalimat tersebut belum menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Dan jika kalimat tersebut diperbaiki dengan menggunakan EYD, tentunya tidak merubah isi dan maknanya.

Adanya perbedaan isi dan makna pada suatu kalimat, bisa saja terjadi, jika korektor atau lembaga penerjemah sendiri tidak memperhatikan kaidah-kaidah dalam penerjemahan, terlebih penerjemahan yang dilakukan menyangkut otoritas yang diyakini sebagai Firman Tuhan. Contohnya, sebagaimana yang terdapat pada Yohanes 21:15 (perhatikan kalimat yang penulis garis bawahi).

Pada Alkitab di atas, bertuliskan : “Hai Simon, anak Jahja, adakah engkau mengasihi Aku lebih daripada orang-orang ini?” 19

Di atas, bertuliskan : Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus : “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” 20

Alkitab versi MILT 2008 ( via website Alkitab Sabda) 21

Alkitab versi MILT 2008 ( Alkitab via PDF ) 22

Pada screen shoot itu (via Website Alkitab Sabda 23 dan PDF), bertuliskan : Selanjutnya, ketika mereka sarapan, Yesus berkata kepada Simon Petrus, "Simon, anak Yunus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada hal-hal ini ?"

Pada frasa di atas yang di garis bawahi (Yohanes 21:15), ternyata Ayahnya Simon ditulis dengan nama : Jahya atau Yahya (nama yang sudah menggunakan EYD), Yohanes dan Yunus. Di saat kita membaca tiga versi dari Yohanes 21:15, tentunya kita akan mempunyai pandangan atas adanya perbedaan nama tersebut, bahwa bapaknya Simon mempunyai tiga nama, yang nama tersebut merujuk pada orang yang sama. Dan tentunya, konklusi yang di bangun dari jawaban tersebut, sebenarnya hanya menggunakan probalitas yang tidak bersifat faktual. Tetapi suatu kewajaran, jika di antara para pembaca mempunyai berbagai pertanyaan atas hal tersebut. Jika memang merujuk pada orang yang sama, apakah nomor strongnya memang sama ? Tetapi jika seandainya berbeda nomor strong pada ayat tersebut, apakah hal tersebut mengimplikasikan orang yang sama pula ? Kenapa ada perbedaan ? Apakah perbedaan tersebut terjadi, karena perbedaan naskah salinannya ataukah tidak ?

Untuk mendapatkan jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut, tentunya kita tidak bisa bersikap subjektif dalam memberikan informasi secara faktual, apalagi mengkedepankan probalitas dan intuitif. Karena suatu jawaban yang bersifat argumentatif dan bisa dipertanggung jawabkan, tentunya harus disertai dengan data dan fakta. Kembali kepada topik sebelumnya yang berkaitan dengan Yohanes 21:15. Adanya perbedaan nama yang digunakan pada berbagai versi Alkitab di Yohanes 21:15, hal itu disebabkan adanya perbedaan sumber naskah salinan yang digunakan. Jika kita mencermati pada naskah salinan, dan juga nomor strongnya, maka kita akan mendapatkan titik temu. Dari frasa yang di garis bawahi, ternyata nomor strongnya 2495 24, yang menyamakan frasa Yunus, Yohanes, dan Yonah. Tetapi jika kita melihat naskah salinan Alkitab pada PB, justru terdapat perbedaan dalam pengguna frasanya. Seperti, frasa Yohanes, digunakan oleh ada Codex Alexandria, naskah salinan dari Hort and Westcott, versi Terjemahan Baru (LAI), New International Version (NIV), Novum Testamentum Graece (NA28, Nestle-Aland).  Sedangkan frasa Yahya, digunakan oleh naskah Bizantium, dan Textus Receptus. Mengenai frasa Yunus yang terdapat pada Alkitab versi MILT 2008, hal tersebut menandaskan, bahwa frasa Yunus tersebut sama dengan Yahya dan Yohanes. Dengan alasan, bahwa frasa atau kata dasarnya sama. Jika demikian, kenapa pada Matius 12:39 tidak menggunakan frasa Yahya atau Yohanes, melainkan Yunus yang masa hidupnya berbeda jauh dengan Yohanes ? Di saat Roh Kudus selalu dibangga-banggakan oleh Kristen, kenapa Roh Kudus sendiri tidak memberikan ilham kepada para penyalin dan korektor, untuk menuliskan frasa yang sama pada setiap versi Alkitab ?


Penutup.
Adanya persoalan tentang perbedaan kitab kanonik pribadi di kalangan Patristik, bahkan terdapatnya perbedaan yang sangat menonjol di dalam teks Alkitab itu sendiri (konteks disini kita membahas kitab Perjanjian Baru), semuanya tersebut disebabkan karena Kristen tidak memiliki naskah primer yang menjadi acuan dalam penyalinannya. Terjemahan yang saat ini beredar, semuanya didapatkan dari hasil salinan, yang menjadikan salinan sebelumnya sebagai naskah tiruan mereka dalam melakukan penyalinan. Keadaan tersebut semakin diperparah, ketika kitab yang dikutip dan dijadikan kitab kanonik pribadi di zaman patristik, ternyata kitabnya anonim. Dan bahkan, argumentasi dari patristik yang mereka sendiri tidak sezaman dengan Yesus, dijadikan sebagai rujukan sekunder oleh Kristen, baik berkaitan dengan masalah teologis, filosofis, dan dogmatis. Oleh karena itu, jika sumber primer dan sekunder yang dijadikan rujukan Kristen yang didapatkan dari orang yang bukan saksi mata di zaman Yesus, maka sudah barang tentu didalamnya akan terdapat diferensiasi yang bersifat kontradiksi dan kontraproduktif.


Selesai.


Catatan Kaki :
1. Hans von Campenhausen, The Formation of the Christian Canon, trans. J. A. Baker (Philadelphia: Fortress Press, 1972), p. 167.
2. Von Campenhausen, p. 167. Cross and Livingston, p. 401.
3. Von Campenhausen, p. 121.
4. Cross and Livingston, pp. 400,1067. ed., The Oxford Dictionary of the Christian Church (Oxford: Oxford Press, 1974)
5. Oratio 18, 29; Irenaeus, Adv Haer I.28.1;.. Eus, HE IV.29.1.
6. A Critical Introduction to the New Testament
7. Metzger mencantumkan tujuh kelompok salinan dalam bukunya, The Text of the N.T : Its Transmission, Corruption, and Restoration. Sedangkan Pdt. Hasan Sutanto, hanya mencantumkan lima kelompok salinan dalam bukunya, Hermeneutik : Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab.
8. Alkitab cetakan tahun 1960, yang di produksi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
9. Alkitab cetakan tahun 2014, yang di produksi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Bahkan, dalam 1 ayat penuh, diberi tanda kurung.
10. Alkitab cetakan tahun 1964, yang di produksi oleh The British and Foreign Bible Society. Bahkan dalam 1 ayat penuh, diberi tanda kurung.
11. Alkitab Deuterokanonika, cetakan tahun 2006. Dicetak oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yang terjemahan tersebut diterima dan diakui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
12. Pdt. Hasan Sutanto, hanya mencantumkan enam kelompok salinan dalam bukunya, Hermeneutik : Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Di sini, penulis hanya mencantumkan tiga kelompok. Karena substansi dari tiga kelompok lainnya, mempunyai kesamaan dengan point c.
13. Alkitab Deuterokanonika, cetakan tahun 2006. Dicetak oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yang terjemahan tersebut diterima dan diakui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
14. Alkitab cetakan tahun 1960, yang di produksi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
15. Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru, cetakan tahun 2006.
16. Alkitab cetakan tahun 2014, yang di produksi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
17. Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab.
18. Alkitab cetakan tahun 1960, yang di produksi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
19. Idem.
20. Alkitab cetakan tahun 2008, yang di produksi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
21. Alkitab Modified Indonesian Literal Translation (MILT) - 2008, Linknya http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=yoh&chapter=21&verse=15http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=yoh&chapter=21&verse=15 (di akses tanggal 24 Mei 2017).
22. Alkitab berbagai versi dalam bentuk pdf, hal. 4328. Linknya : http://download.sabda.org/mobile/pdf/ (di akses tanggal 24 Mei 2017).
23. Di akses oleh penulis, tanggal 24 Mei 2017 http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=yoh&chapter=21&verse=15 
24. Di akses oleh penulis, tanggal 24 Mei 2017 http://www.sacrednamebible.com/kjvstrongs/CONGRK249.htm#S2500

Tidak ada komentar:

Posting Komentar