Rabu, 12 Juli 2017

Mushaf Ubay bin Ka'ab


Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan.
Ubay bin Ka’ab bin Qais bin Zaid bin Muawiyah bin ‘Amr al-Anshari an-Najjar, adalah salah seorang sahabat Nabi yang dijuluki sebagai Abul Mundzir dan Abu Thufail. Ubay termasuk orang yang dahulu masuk Islam, dan termasuk pula sebagai kaum anshar. Ia pun termasuk salah seorang yang ikut pula pada perjanjian Aqabah kedua yang sudah mengenal baca tulis pada masa jahiliyah, dan berbagai peperangan telah diikutinya, termasuk perang Badar. Nama Ubay, dicantumkan di antara deretan para sekretaris Nabi saw oleh para ulama sejarah, yaitu Umar bin Syabah,1 Ath-Thabari,2 Ibnu Maskawaih,3 Al-Ya’qubi,4 Al-Jahsyayari,5 Ibnu Atsir,6 Al-Iraqi, 7 Al-Mizzi,8 Ibnu Katsir,9 dan lain-lain. Ubay bin Ka’ab adalah orang yang ahli dalam ilmu agama, dan termasuk pula orang yang bagus bacaan Al-Qur’annya. Hal tersebut dibuktikan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amru, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ambillah bacaan al-Qur'an dari empat orang. Yaitu dari Ibnu Mas'ud, Salim, maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal".10 Berkaitan tentang kapan wafatnya Ubay bin Ka’ab, para ahli sejarah berbeda pendapat. Menurut Ibnu Mu’in, Ubay meninggal pada tahun 20 atau 19 Hijriah. Sedangkan menurut al-Waqidi, Ubay meninggal pada tahun 22 Hijriah. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa ia meninggal pada 30 Hijriah. Dari riwayat lainnya dapat disimpulkan, bahwa Ubay meninggal sebelum peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan pada hari jumat.11

Rabu, 14 Juni 2017

Penyebab Yahudi Mengharapkan Mesias


Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan.
Kata Messiah dalam bahasa Aram adalah mesiha, yang jika dalam bahasa Ibrani adalah Mashiach. Di zaman purbakala, istilah tersebut biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai Christos, yang dalam bahasa Latin disebut Christus, sedangkan pada bahasa Inggris adalah Christ. Semua kata itu, secara literal berarti orang yang diurapi. Mesias biasanya mengacu pada seseorang yang di inisiasi ke dalam pelayanan Tuhan yang diurapi dengan minyak.1 Adapun gagasan tentang makhluk yang tidak berdosa, ilahi atau semi ilahi, yang akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi dosa, semua itu merupakan murni dari konsep Kristen yang tidak memiliki dasar sama sekali dalam pemikiran Yahudi. Sayangnya, konsep Kristen tersebut telah begitu tertanam dalam kata bahasa Inggris, yakni Messiah, sehingga kata bahasa Inggris ini tidak dapat lagi digunakan untuk merujuk pada konsep Yahudi.2

Kamis, 25 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB) bagian 2



Oleh : Sang Misionaris.



Para penulis buku yang sekarang terdiri dari Perjanjian Baru (PB) tidak bermaksud agar tulisan mereka menggantikan atau menyaingi Perjanjian Lama (PL). Kitab Kristen pada awalnya dimaksudkan sebagai dokumen utilitarian, untuk menanggapi kebutuhan spesifik gereja mula-mula. Seiring dengan berjalannya waktu lebih dari seratus tahun setelah Yesus, orang-orang Kristen mulai menggunakan istilah Perjanjian Baru untuk merujuk pada tulisan suci bahwa gereja yang baru lahir itu mulai dipandang sebagai satu unit yang suci. Orang Kristen mula-mula memandang PB sebagai penggenap atas janji yang terdapat pada PL, dan bukan sebagai pengganti dari kitab suci Yahudi. PB seperti yang kita ketahui sekarang ini, terdiri dari dua puluh tujuh buku, namun aslinya tidak ditulis sebagai keseluruhan yang koheren dan Yesus sendiri tidak memproduksi catatan tertulis tentang pekerjaannya tersebut. Meskipun PB yang sekarang dimiliki oleh Kristen ditulis pada abad pertama, tetapi dibutuhkan waktu yang panjang untuk diterima sebagai otoritas universal. Awalnya, hanya kehidupan dan ucapan Kristus yang dianggap sama dengan kitab suci Perjanjian Lama. Misalnya, Hegessipus pada paruh pertama abad kedua hanya menerima hukum, para Nabi, dan hak Tuhan, sebagai norma-norma yang dianggap sebagai iman yang benar.1 Lalu pada paruh pertama abad ketiga di Suriah Utara, menyatakan bahwa norma otoritatif adalah kitab suci dan Injil Allah.2

Sabtu, 13 Mei 2017

Menjawab Dakwaan Terhadap Mushaf Ibn Mas'ud






Oleh : Sang Misionaris.

Pendahuluan.
Sebelum menelaah tentang mushaf Ibn Mas’ud atau riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada Ibn Mas’ud, perlu untuk sekiranya dipahami, bahwa mushaf yang disepakati oleh umat dan dibaca oleh seluruh kaum Muslimin di berbagai daerah adalah mushaf Utsmani yang diriwayatkan secara mutawatir. Konsensus (ijma’) para sahabat ini, tidak akan menjadi gugur dengan adanya penolakan dari Ibn Mas’ud. Adapun alasan Ibn Mas’ud melakukan penolakan untuk membakar mushafnya, sudah penulis sampaikan pada Artikel ini.

Ibn Mas’ud adalah sahabat Nabi Muhammad saw yang berasal dari suku Hudzail, ia menjadi salah seorang guru dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat umum. Di antara para muridnya ada yang berasal dari suku Hudzail, Tamim, Quraisy, dan lainnya. Para penduduk Kufah, belajar sastra, bahasa, dan bacaan Al-Qur’an kepada Ibn Mas’ud (1). Ia mendiktekan Al-Qur’an kepada mereka sesuai dengan apa yang dipelajarinya dari Rasulullah Saw, dalam batasan dispensasi dari huruf yang tujuh. Sudah barang tentu, Ibn Mas’ud mendukung salah satu dialek tertentu, sementara ia tahu kalau salah satu huruf yang tujuh adalah perbedaan di antara dialek. Ia hanya berusaha mengajarkan kepada setiap murid yang datang kepadanya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Kamis, 11 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB)


Oleh : Sang Misionaris.


Jika anda betul-betul mempelajari dan memahami proses kodifikasi Alquran dari mulai zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini, teks asli dan bahasa asli yang terdapat pada Alquran masih tetap digunakan dan masih sama isinya. Masih digunakannya teks asli dan bahasa asli pada Alquran, hal itu dilakukan untuk mencegah adanya penyisipan dan penyimpangan atas Firman Allah, baik dalam aspek penterjemahan, penafsiran, serta pengamalan. Metode yang digunakan oleh Nabi dalam mentransformasi wahyu kepada para sahabat, berupa hapalan dan murajaah. Yang ternyata, metode tersebut belum pernah dilakukan oleh bangsa dan agama manapun. Tapi lain halnya, jika kita meninjau Alkitab. Karena pada Alkitab, tidak adanya teks dan bahasa asli, yang hal tersebut telah menuai perbedaan pendapat di kalangan sarjana Kristen, seperti halnya tentang perbedaan antara “arti asli ayat” dengan “makna ayat”, yang hal tersebut menyangkut tentang penerapan antara rekontruksi historis, deskriptif dan objektif, dengan penafsiran teologis dan normatif. Implikasi atas terjadinya silang pendapat tersebut, bisa di lihat seperti terjadi diantara para sarjana teologi, seperti Childs dengan Stendahl. Misalnya, B. S. Childs (3) mengajukan keberatannya terhadap pendekatan historis dan deskriptif yang diterapkan pada Alkitab. Karena menurutnya, hal tersebut dianggap membatasi ruang dalam menafsirkan dan memahami ayat-ayat Alkitab. Sedangkan menurut Stendahl (4), mengakui bahwa tugas deskriptif mampu menguraikan ayat-ayat Alkitab secara lebih luas daripada apa yang terkandung di dalam ayat-ayat itu dalam maksud dan fungsi ayat-ayat itu sepanjang zaman.