Senin, 04 September 2017

Sebuah Kata Pengantar Injil Matius




Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan
Injil Matius adalah kitab pertama dalam Perjanjian Baru. Dan bagi Kristen, penempatannya sebagai penghubung antara Perjanjian Lama (PL) dengan Perjanjian Baru (PB). Karena posisi Injil Matius termasuk dokumen tunggal terpenting dalam iman Kristen, Injil ini menjadi paling umum dibaca dan paling sering dikutip oleh jemaat mula-mula.1 Karena hal itulah, dalam ulasan kali ini penulis hanya memfokuskan diri pada Injil kanonik, yang diawali pembahasannya dengan Injil Matius dalam melakukan penelitian lebih lanjut terhadap Injil kanonik. Karena pada dasarnya, sebuah kata pengantar (dalam arti suatu disiplin sejarah) adalah pijakan dasar bagi para pembaca sebelum melakukan penilaian, atau pendalaman atas suatu teks sastra dalam perspektif historis, yang kelak akan berkaitan pembahasannya dengan kritik bentuk, kritik sumber, dan kritik tradisi, khususnya terhadap Injil Kanonik. Pengantar khusus ini, tentunya berkaitan pula dengan asal-mula suatu dokumen, yang menyangkut tentang kepengarangan, waktu dan tempat penulisan, alasan dan maksudnya, para pembaca yang dituju, integritas karya dan sumber-sumbernya. Dengan adanya ulasan ini, diharapkan bisa menambah wawasan khususnya dalam dialog lintas agama Islam Kristen.

Rabu, 12 Juli 2017

Mushaf Ubay bin Ka'ab


Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan.
Ubay bin Ka’ab bin Qais bin Zaid bin Muawiyah bin ‘Amr al-Anshari an-Najjar, adalah salah seorang sahabat Nabi yang dijuluki sebagai Abul Mundzir dan Abu Thufail. Ubay termasuk orang yang dahulu masuk Islam, dan termasuk pula sebagai kaum anshar. Ia pun termasuk salah seorang yang ikut pula pada perjanjian Aqabah kedua yang sudah mengenal baca tulis pada masa jahiliyah, dan berbagai peperangan telah diikutinya, termasuk perang Badar. Nama Ubay, dicantumkan di antara deretan para sekretaris Nabi saw oleh para ulama sejarah, yaitu Umar bin Syabah,1 Ath-Thabari,2 Ibnu Maskawaih,3 Al-Ya’qubi,4 Al-Jahsyayari,5 Ibnu Atsir,6 Al-Iraqi, 7 Al-Mizzi,8 Ibnu Katsir,9 dan lain-lain. Ubay bin Ka’ab adalah orang yang ahli dalam ilmu agama, dan termasuk pula orang yang bagus bacaan Al-Qur’annya. Hal tersebut dibuktikan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amru, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ambillah bacaan al-Qur'an dari empat orang. Yaitu dari Ibnu Mas'ud, Salim, maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal".10 Berkaitan tentang kapan wafatnya Ubay bin Ka’ab, para ahli sejarah berbeda pendapat. Menurut Ibnu Mu’in, Ubay meninggal pada tahun 20 atau 19 Hijriah. Sedangkan menurut al-Waqidi, Ubay meninggal pada tahun 22 Hijriah. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa ia meninggal pada 30 Hijriah. Dari riwayat lainnya dapat disimpulkan, bahwa Ubay meninggal sebelum peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan pada hari jumat.11

Rabu, 14 Juni 2017

Penyebab Yahudi Mengharapkan Mesias


Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan.
Kata Messiah dalam bahasa Aram adalah mesiha, yang jika dalam bahasa Ibrani adalah Mashiach. Di zaman purbakala, istilah tersebut biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai Christos, yang dalam bahasa Latin disebut Christus, sedangkan pada bahasa Inggris adalah Christ. Semua kata itu, secara literal berarti orang yang diurapi. Mesias biasanya mengacu pada seseorang yang di inisiasi ke dalam pelayanan Tuhan yang diurapi dengan minyak.1 Adapun gagasan tentang makhluk yang tidak berdosa, ilahi atau semi ilahi, yang akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi dosa, semua itu merupakan murni dari konsep Kristen yang tidak memiliki dasar sama sekali dalam pemikiran Yahudi. Sayangnya, konsep Kristen tersebut telah begitu tertanam dalam kata bahasa Inggris, yakni Messiah, sehingga kata bahasa Inggris ini tidak dapat lagi digunakan untuk merujuk pada konsep Yahudi.2

Kamis, 25 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB) bagian 2



Oleh : Sang Misionaris.



Para penulis buku yang sekarang terdiri dari Perjanjian Baru (PB) tidak bermaksud agar tulisan mereka menggantikan atau menyaingi Perjanjian Lama (PL). Kitab Kristen pada awalnya dimaksudkan sebagai dokumen utilitarian, untuk menanggapi kebutuhan spesifik gereja mula-mula. Seiring dengan berjalannya waktu lebih dari seratus tahun setelah Yesus, orang-orang Kristen mulai menggunakan istilah Perjanjian Baru untuk merujuk pada tulisan suci bahwa gereja yang baru lahir itu mulai dipandang sebagai satu unit yang suci. Orang Kristen mula-mula memandang PB sebagai penggenap atas janji yang terdapat pada PL, dan bukan sebagai pengganti dari kitab suci Yahudi. PB seperti yang kita ketahui sekarang ini, terdiri dari dua puluh tujuh buku, namun aslinya tidak ditulis sebagai keseluruhan yang koheren dan Yesus sendiri tidak memproduksi catatan tertulis tentang pekerjaannya tersebut. Meskipun PB yang sekarang dimiliki oleh Kristen ditulis pada abad pertama, tetapi dibutuhkan waktu yang panjang untuk diterima sebagai otoritas universal. Awalnya, hanya kehidupan dan ucapan Kristus yang dianggap sama dengan kitab suci Perjanjian Lama. Misalnya, Hegessipus pada paruh pertama abad kedua hanya menerima hukum, para Nabi, dan hak Tuhan, sebagai norma-norma yang dianggap sebagai iman yang benar.1 Lalu pada paruh pertama abad ketiga di Suriah Utara, menyatakan bahwa norma otoritatif adalah kitab suci dan Injil Allah.2

Sabtu, 13 Mei 2017

Menjawab Dakwaan Terhadap Mushaf Ibn Mas'ud






Oleh : Sang Misionaris.

Pendahuluan.
Sebelum menelaah tentang mushaf Ibn Mas’ud atau riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada Ibn Mas’ud, perlu untuk sekiranya dipahami, bahwa mushaf yang disepakati oleh umat dan dibaca oleh seluruh kaum Muslimin di berbagai daerah adalah mushaf Utsmani yang diriwayatkan secara mutawatir. Konsensus (ijma’) para sahabat ini, tidak akan menjadi gugur dengan adanya penolakan dari Ibn Mas’ud. Adapun alasan Ibn Mas’ud melakukan penolakan untuk membakar mushafnya, sudah penulis sampaikan pada Artikel ini.

Ibn Mas’ud adalah sahabat Nabi Muhammad saw yang berasal dari suku Hudzail, ia menjadi salah seorang guru dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat umum. Di antara para muridnya ada yang berasal dari suku Hudzail, Tamim, Quraisy, dan lainnya. Para penduduk Kufah, belajar sastra, bahasa, dan bacaan Al-Qur’an kepada Ibn Mas’ud (1). Ia mendiktekan Al-Qur’an kepada mereka sesuai dengan apa yang dipelajarinya dari Rasulullah Saw, dalam batasan dispensasi dari huruf yang tujuh. Sudah barang tentu, Ibn Mas’ud mendukung salah satu dialek tertentu, sementara ia tahu kalau salah satu huruf yang tujuh adalah perbedaan di antara dialek. Ia hanya berusaha mengajarkan kepada setiap murid yang datang kepadanya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.