Jumat, 23 Februari 2018

Sebuah Kata Pengantar Injil Lukas


Pendahuluan
    Pada awalnya, Injil Lukas bersama dengan Kisah Para Rasul (KPR) beredar tanpa nama. Sumber-sumber yang ada padanya, sama sekali bukan berasal dari sumber-sumber yang historis, melainkan hanya sekedar pemberitaan saja. Jika sekiranya Lukas ingin menjadi ahli sejarah, tentunya ia akan menulis peristiwa-peristiwa masa lampau dengan menyajikan satuan-satuan pemberitaan sebagai bagian dari pembentukan sejarah. Namun di sisi lain, ia justru malah menggambarkan peristiwa yang ada sebagai sebuah penggenapan. Apa yang disampaikannya, mengandung banyak hal yang tidak terdapat pada Injil lainnya. Adapun metode penulisan atas informasi yang selama itu ia dapatkan dengan apa yang ia tulis, tentunya berawal dari pengumpulan berbagai sumber yang ia dapatkan dengan metode penyisihan. Tidak ada informasi yang bisa kita dapatkan, tentang tolok ukur apa yang telah ia gunakan; baik dalam menangani perbedaan informasi yang telah beredar; maupun pemberitaan atas apa yang telah dituliskannya. Dengan kondisi seperti itu, tentunya kita bisa menyimpulkan, bahwa apa yang telah dituliskan oleh Lukas, bukanlah sebagai informasi tunggal kala itu. Apa yang ia tulis dalam prolognya tersebut, mengindikasikan bahwa apa yang ia tulis merupakan sebuah tanggapan atau reaksi dari adanya perbedaan informasi yang telah beredar di masyarakat kala itu.

Senin, 19 Februari 2018

Siapakah Penulis Injil Markus ?



Pendahuluan
    Kristen meyakini, bahwa Markus adalah penulis Injil Markus, yang ia sendiri diyakini sebagai salah satu muridnya Yesus yang paling awal. Namun, pada saat penulis menelusuri pelbagai literatur bacaan tentang kepengarangan Injil Markus, ternyata Markus bukanlah salah satu dari dua belas murid Yesus,1 dan tidak ada alasan yang kuat untuk dipercaya bahwa dia adalah saksi mata dari setiap kejadian yang telah ia catat. Jika Markus bukanlah penulis Injil Markus, lalu siapakah yang menulis Injil tersebut ? Tentunya, jawaban yang disampaikan bagi pertanyaan tersebut, tidak sesederhana seperti pertanyaannya. Karena untuk memberikan jawaban tentang siapa kepengarangan Injil Markus, tentunya tidaklah begitu mudah, terlebih informasi yang terdapat pada Injil ini begitu sangat minim. Dan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, tentunya mau tidak mau, kita harus menggali informasi dari teks itu sendiri, selain menggunakan data eksternal yang sekiranya dianggap memadai, terlebih nama Markus bukanlah nama satu-satunya di kala itu.

Jumat, 09 Februari 2018

Doktrin Trinitas : Refleksi Historis - Teologis



Kata Pengantar
    Di saat kita membahas tentang teologi Kristen, sudah menjadi rahasia umum bahwa Kristen telah mewarisi teologi Yunani yang telah diterapkan dalam suatu cara yang khusus. Teologi menjadi terkemuka di kalangan Kristen, sebagai suatu cara untuk membumikan tradisi Kristen dalam kebudayaan Yunani-Romawi. Istilah Theologia dalam bahasa Yunani, hal tersebut mengacu kepada Tuhan-tuhan atau Tuhan. Namun bagi Athanasius, teologi sebenarnya memiliki makna teknis pengetahuan tentang Tuhan Trinitas, sementara oikonomia mencakup doktrin-doktrin gereja lainnya.1 Meskipun pada akhirnya, teologi memiliki keluasan makna hingga mencakup seluruh doktrin. Bahkan pada masa Aquinas, teologi tidak saja mencakup tentang doktrin, melainkan mencakup pula tentang etika spiritualitas, filsafat, peraturan-peraturan Gereja, dan mistisisme. Jika Athanasius meyakini bahwa teologi memiliki makna teknis terhadap Trinitas, tentunya keteknisan yang ada harus ditunjang dengan konsepsi yang jelas. Namun apa jadinya jika Trinitas yang diyakini oleh Kristen saat ini ternyata dihasilkan oleh perbedaan pendapat di kalangan Bapa-bapa Gereja ?2 Kenapa keyakinan yang membentuk iman Kristen terhadap Trinitas mengalami keevolusian ? Apakah benar, lahirnya gagasan tentang Trinitas pada awalnya tidak terpengaruh oleh keyakinan lain ? Karena hal itulah, penulis ingin membuka sedikit tirai yang selama ini tertutup atau mungkin ditutup-tutupi oleh Kristen, dalam membuktikan bahwa doktrin Trinitas pada dasarnya dihasilkan oleh para pemikir Yunani yang pada akhirnya pemikiran-pemikiran tersebut diserap oleh Bapa-bapa Gereja, dan mengakibatkan lahirnya perbedaan pandangan di kalangan Bapa Gereja dalam merasionalisasikan Tuhan Trinitas.

Sabtu, 13 Januari 2018

Sebuah Kata Pengantar Injil Markus



Pendahuluan
Sebelum masuk pada periode kritik modern, Injil Markus merupakan Injil yang paling banyak diabaikan. Injil ini, tidak banyak yang dibahas dan sedikit sekali buku tafsiran kuno yang ditulis untuknya.  Karena Injil Markus sering dianggap tidak lebih dari ringkasan Injil pertama, yakni Injil Matius. Jadi tidak mengherankan, bila Injil ini berada di bawah bayang-bayang Injil Matius yang dianggap lebih agung. Dan Injil Markus mulai dianggap penting, di saat pendapat dari para sarjana Kristen mulai melihatnya sebagai kunci dalam memecahkan problem sinoptik.

Adanya pendapat dari Agustinus bahwa Injil Markus merupakan ringkasan dari Injil Matius, telah diterima secara umum hingga awal abad ke-19 masehi. Setelah itu, teori prioritas terhadap Injil Markus pun mulai menguasai lapangan, dan bahkan telah dianggap sebagai hasil kritik yang terjamin. Dan untuk menghemat ruang, Insya Allah tentang hal itu akan penulis bahas pada tempat yang berbeda. Karena artikel kali ini membahas tentang pengantar khusus bagi Injil Markus, tentunya penulis tidak akan terlalu banyak memasukkan pikiran penulis ke dalam artikel ini, selain memberikan pelbagai kutipan dari pendapat para sarjana Kristen sendiri.

Kamis, 11 Januari 2018

Benarkah Matius Seorang Penulis Injil Matius ?




Pendahuluan
Sebelumnya, kita telah membahas tentang Injil Matius secara singkat dengan menggunakan pendekatan sastra yang diiringi dengan metode historis di sini. Tentu saja, pertanyaan yang muncul ialah, apakah kita dapat menyebut bahwa Injil Matius adalah sebuah Vita Jesus (riwayat hidup Yesus) ataukah tidak ? Karena Matius tidak saja terlibat dalam penyejarahan, melainkan Matius pun telah mengambil alih tradisi-tradisi yang lebih tua dalam siklusnya (Insya Allah, penulis akan membuat materi khusus tentang hal ini di ruang yang terpisah). Dan Matius sendiri, telah menempatkannya secara bersama-sama dalam cara yang begitu rupa, sehingga apa yang dituliskannya menjadi pemberitaan yang ditujukan kepada zamannya sendiri, tanpa mempunyai maksud bahwa apa yang sudah dituliskannya itu diperuntukan bagi orang-orang sesudahnya.

Jika Matius yang diyakini oleh Kristiani telah ikut andil dalam menyampaikan Yesus sejarah, tentu saja pertanyaan yang sangat krusial pun sudah selayaknya kita ajukan kepada pihak Kristen. Benarkah Matius seorang penulis Injil Matius ? Jika jawaban pihak Kristiani menyatakan iya, tentunya mereka mampu menyajikan berbagai bukti internal dan eksternal dalam menguatkan pendapatnya. Dan dari bukti-bukti yang dipaparkan oleh Kristen, perlu sekiranya kita pun melakukan pengujian ulang atas resistensi dalil yang digunakan oleh Kristen.