Sabtu, 13 Januari 2018

Sebuah Kata Pengantar Injil Markus



Pendahuluan
Sebelum masuk pada periode kritik modern, Injil Markus merupakan Injil yang paling banyak diabaikan. Injil ini, tidak banyak yang dibahas dan sedikit sekali buku tafsiran kuno yang ditulis untuknya.  Karena Injil Markus sering dianggap tidak lebih dari ringkasan Injil pertama, yakni Injil Matius. Jadi tidak mengherankan, bila Injil ini berada di bawah bayang-bayang Injil Matius yang dianggap lebih agung. Dan Injil Markus mulai dianggap penting, di saat pendapat dari para sarjana Kristen mulai melihatnya sebagai kunci dalam memecahkan problem sinoptik.

Adanya pendapat dari Agustinus bahwa Injil Markus merupakan ringkasan dari Injil Matius, telah diterima secara umum hingga awal abad ke-19 masehi. Setelah itu, teori prioritas Injil Markus pun mulai menguasai lapangan, dan bahkan telah dianggap sebagai hasil kritik yang terjamin. Dan untuk menghemat ruang, Insya Allah tentang hal itu akan penulis bahas pada tempat yang berbeda. Karena artikel kali ini membahas tentang pengantar khusus bagi Injil Markus, tentunya penulis tidak akan terlalu banyak memasukkan pikiran penulis ke dalam artikel ini, selain memberikan pelbagai kutipan dari pendapat para sarjana Kristen sendiri.

Kamis, 11 Januari 2018

Siapakah Penulis Injil Matius ?




Pendahuluan
Sebelumnya, kita telah membahas tentang Injil Matius secara singkat dengan menggunakan pendekatan sastra yang diiringi dengan metode historis di sini. Tentu saja, pertanyaan yang muncul ialah, apakah kita dapat menyebut bahwa Injil Matius adalah sebuah Vita Jesus (riwayat hidup Yesus) ataukah tidak ? Karena Matius tidak saja terlibat dalam penyejarahan, melainkan Matius pun telah mengambil alih tradisi-tradisi yang lebih tua dalam siklusnya (Insya Allah, penulis akan membuat materi khusus tentang hal ini di ruang yang terpisah). Dan Matius sendiri, telah menempatkannya secara bersama-sama dalam cara yang begitu rupa, sehingga apa yang dituliskannya menjadi pemberitaan yang ditujukan kepada zamannya sendiri, tanpa mempunyai maksud bahwa apa yang sudah dituliskannya itu diperuntukan bagi orang-orang sesudahnya.

Jika Matius yang diyakini oleh Kristiani telah ikut andil dalam menyampaikan Yesus sejarah, tentu saja pertanyaan yang sangat krusial pun sudah selayaknya kita ajukan kepada pihak Kristen. Benarkah Matius seorang penulis Injil Matius ? Jika jawaban pihak Kristiani menyatakan iya, tentunya mereka mampu menyajikan berbagai bukti internal dan eksternal dalam menguatkan pendapatnya. Dan dari bukti-bukti yang dipaparkan oleh Kristen, perlu sekiranya kita pun melakukan pengujian ulang atas resistensi dalil yang digunakan oleh Kristen.

Senin, 04 September 2017

Sebuah Kata Pengantar Injil Matius






Pendahuluan
Injil Matius adalah kitab pertama dalam Perjanjian Baru. Dan bagi Kristen, penempatannya sebagai penghubung antara Perjanjian Lama (PL) dengan Perjanjian Baru (PB). Karena posisi Injil Matius termasuk dokumen tunggal terpenting dalam iman Kristen, Injil ini menjadi paling umum dibaca dan paling sering dikutip oleh jemaat mula-mula.1 Karena hal itulah, dalam ulasan kali ini penulis hanya memfokuskan diri pada Injil kanonik, yang diawali pembahasannya dengan Injil Matius dalam melakukan penelitian lebih lanjut terhadap Injil kanonik. Karena pada dasarnya, sebuah kata pengantar (dalam arti suatu disiplin sejarah) adalah pijakan dasar bagi para pembaca sebelum melakukan penilaian, atau pendalaman atas suatu teks sastra dalam perspektif historis, yang kelak akan berkaitan pembahasannya dengan kritik bentuk, kritik sumber, dan kritik tradisi, khususnya terhadap Injil Kanonik. Pengantar khusus ini, tentunya berkaitan pula dengan asal-mula suatu dokumen, yang menyangkut tentang kepengarangan, waktu dan tempat penulisan, alasan dan maksudnya, para pembaca yang dituju, integritas karya dan sumber-sumbernya. Dengan adanya ulasan ini, diharapkan bisa menambah wawasan khususnya dalam dialog lintas agama Islam Kristen.

Rabu, 12 Juli 2017

Mushaf Ubay bin Ka'ab


Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan.
Ubay bin Ka’ab bin Qais bin Zaid bin Muawiyah bin ‘Amr al-Anshari an-Najjar, adalah salah seorang sahabat Nabi yang dijuluki sebagai Abul Mundzir dan Abu Thufail. Ubay termasuk orang yang dahulu masuk Islam, dan termasuk pula sebagai kaum anshar. Ia pun termasuk salah seorang yang ikut pula pada perjanjian Aqabah kedua yang sudah mengenal baca tulis pada masa jahiliyah, dan berbagai peperangan telah diikutinya, termasuk perang Badar. Nama Ubay, dicantumkan di antara deretan para sekretaris Nabi saw oleh para ulama sejarah, yaitu Umar bin Syabah,1 Ath-Thabari,2 Ibnu Maskawaih,3 Al-Ya’qubi,4 Al-Jahsyayari,5 Ibnu Atsir,6 Al-Iraqi, 7 Al-Mizzi,8 Ibnu Katsir,9 dan lain-lain. Ubay bin Ka’ab adalah orang yang ahli dalam ilmu agama, dan termasuk pula orang yang bagus bacaan Al-Qur’annya. Hal tersebut dibuktikan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amru, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ambillah bacaan al-Qur'an dari empat orang. Yaitu dari Ibnu Mas'ud, Salim, maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal".10 Berkaitan tentang kapan wafatnya Ubay bin Ka’ab, para ahli sejarah berbeda pendapat. Menurut Ibnu Mu’in, Ubay meninggal pada tahun 20 atau 19 Hijriah. Sedangkan menurut al-Waqidi, Ubay meninggal pada tahun 22 Hijriah. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa ia meninggal pada 30 Hijriah. Dari riwayat lainnya dapat disimpulkan, bahwa Ubay meninggal sebelum peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan pada hari jumat.11

Rabu, 14 Juni 2017

Penyebab Yahudi Mengharapkan Mesias


Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan.
Kata Messiah dalam bahasa Aram adalah mesiha, yang jika dalam bahasa Ibrani adalah Mashiach. Di zaman purbakala, istilah tersebut biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai Christos, yang dalam bahasa Latin disebut Christus, sedangkan pada bahasa Inggris adalah Christ. Semua kata itu, secara literal berarti orang yang diurapi. Mesias biasanya mengacu pada seseorang yang di inisiasi ke dalam pelayanan Tuhan yang diurapi dengan minyak.1 Adapun gagasan tentang makhluk yang tidak berdosa, ilahi atau semi ilahi, yang akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi dosa, semua itu merupakan murni dari konsep Kristen yang tidak memiliki dasar sama sekali dalam pemikiran Yahudi. Sayangnya, konsep Kristen tersebut telah begitu tertanam dalam kata bahasa Inggris, yakni Messiah, sehingga kata bahasa Inggris ini tidak dapat lagi digunakan untuk merujuk pada konsep Yahudi.2