Jumat, 13 April 2018

Alasan Umat Islam Berperang


Pendahuluan
    Ketika kalangan Islamophobia membahas tentang perang yang dilakukan oleh Umat Islam, dengan serta merta mereka memberikan berbagai rentetan tudingan dalam mendeskreditkan Islam, bahwa Islam adalah agama yang haus akan perang, umat Islam adalah orang yang haus akan adanya pertumpahan darah, Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan pembunuhan atas nama Tuhan, dan lain-lain. Jika memang umat Islam sesuai dengan apa yang mereka tudingkan, tentunya suatu hal yang tidak logis, ketika dalam aspek apapun, semisal dalam melakukan perang sekalipun, ternyata Islam memberikan sistem aturan mainnya. Jika demikian, apakah bisa dikatakan bahwa peperangan yang dilakukan oleh umat Islam selama ini disebabkan karena adanya perintah dari Allah ? Lalu, orientasi apa yang dituju oleh umat Islam dalam melakukan peperangan  ?  

Jumat, 06 April 2018

Kritik Nalar Islamophobia

Pendahuluan
    Ketika dunia teknologi sudah semakin berkembang sebagaimana saat ini, dengan mudahnya kita bisa mendapatkan berbagai pandangan miring terhadap Islam atas apa yang dilakukan oleh Islamophobia; seperti halnya yang dilakukan oleh oknum Kristen. Ujaran kebencian sangat terlihat dari setiap komentar atau pandangan yang mereka sampaikan, bahwa Islam adalah agama yang haus akan perang, Islam adalah agama yang brutal, Islam tidak mengenal belas kasih, Islam disebarkan dibawah pedang, Islam adalah agama yang haus darah, dan lain-lain. Mereka melakukan hal demikian, agar tercipta stigma negatif terhadap Islam di mata dunia, dan di sisi lain, mereka sedang membangun persepsi, bahwa ajaran mereka adalah agama yang penuh kasih, agama yang penuh damai, dan lain-lain. Namun, mereka menuding demikian terhadap Islam, apakah mereka akan konsisten dengan persepsinya ketika kita memberikan studi kasus kepada mereka ?   

Senin, 02 April 2018

Siapakah Penulis Injil Yohanes ?


Pendahuluan
    Sebagaimana yang telah penulis singgung di awal; pada artikel ini  dan juga ini, bahwa sosok pengarang Injil Yohanes sebenarnya telah terpengaruh oleh pemikiran helenistik, seperti halnya Philo; sebagaimana yang terlihat dalam prolognya Injil Yohanes yang menyinggung tentang Logos. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa kepenulisan Injil Yohanes merupakan sebuah sanggahan bagi keyakinan Donetis, dan bahkan ada pula gagasan lain, bahwa Yohanes sendiri sebenarnya telah dipengaruhi oleh konsepsi dari Agnostik.1  Dan di sini, kita akan menelusuri tentang penulis Injil Yohanes, yang pendapat umum Kristen meyakini, bahwa pengarang Injil Yohanes ialah Yohanes bin Zebedeus. Namun sebenarnya, jika kita menilik pelbagai literatur Kristen, sebenarnya banyak gagasan-gagasan yang telah diajukan oleh para sarjana Kristen dalam mencari tahu nama dari sipenulis Injil Yohanes ini. Implikasi tersebut, sebenarnya memberikan gagasan kepada kita, bahwa siapapun namanya yang telah dinisbatkan pada Injil ini, sebenarnya tidak mengurangi atau bahkan menghilangkan anonimitas Injil Yohanes. Lalu, gagasan-gagasan seperti apa yang dikemukakan oleh para sarjana Kristen dalam mengidentifikasikan penulis Injil Yohanes ? Mari, kita telusuri bersama.

Selasa, 27 Maret 2018

Sebuah Kata Pengantar Injil Yohanes


Pendahuluan
    Injil Yohanes, begitu sangat berbeda dengan Injil Sinoptik. Injil Markus, lebih menekankan perhatiannya kepada Yesus sebagai manusia. Sedangkan Injil Matius dan juga Lukas, lebih memusatkan perhatiannya tentang permulaan kehidupan Yesus sebagai manusia, yang diiringi dengan kisah kelahiran Yesus. Adapun Injil Yohanes, lebih menekankan aspek sisi Ketuhanan Yesus, yang diawali pembahasannya dengan pra-eksistensinya, meskipun di sisi lain, Injil ini pun mendukung pola kemanusiaannya.1 Sesungguhnya, banyak faktor yang mempengaruhi Injil ini; adanya pemolesan dari pemikiran Philo, perlawanan terhadap Gnostikisme, dan Dosetis, ikut mewarnai Injil ini. Dengan mengusung topik yang berkaitan dengan kata pengantar Injil Yohanes, penulis berharap bisa memberikan sedikit kontribusi terhadap tema-tema yang berkaitan dengan Dialog Lintas Agama Islam-Kristen, sehingga di antara kita bisa lebih mengembangkan tema-tema yang diusung dalam berdialog, yang di sisi lain, meninggalkan metode dialog yang usang pula; perang ayat.

Minggu, 18 Maret 2018

Siapakah Penulis Injil Lukas ?



Pendahuluan
    Sebagaimana penulis Injil Matius dan juga Injil Markus, penulis Injil Lukas pun diyakini pula oleh Kristen sebagai salah satu dari dua belas muridnya Yesus, bahkan ada yang meyakini sebagai salah satu murid Yesus yang berjumlah tujuh puluh orang. Kristen berkeyakinan, bahwa nama pengarang Injil Lukas ini ialah Lukas, yang berprofesi sebagai dokter atau tabib. Pada awalnya, Kristen mengalami kesulitan dalam mencari tahu tentang siapa penulis Injil Lukas ini, namun dengan langkah mendeduksikan narasi yang terdapat pada Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (KPR) 1:1, akhirnya diyakini bahwa kedua kitab tersebut ditulis oleh orang yang sama, yakni yang bernama Lukas. Dan sebagaimana yang telah disampaikan pada artikel sebelumnya,  bahwa penulis Injil Lukas, sebenarnya hanya ingin menyampaikan narasi yang ada didalamnya sebagai hadiah atau persembahan bagi Teofilus, dan Lukas tidak pernah mengira bahwa karyanya tersebut akan melengkapi bagian dari Perjanjian Baru (PB) yang pada akhirnya diakui secara resmi oleh orang-orang Kristen di masa mendatang.1

Jumat, 23 Februari 2018

Sebuah Kata Pengantar Injil Lukas



Pendahuluan
    Pada awalnya, Injil Lukas bersama dengan Kisah Para Rasul (KPR) beredar tanpa nama. Sumber-sumber yang ada padanya, sama sekali bukan berasal dari sumber-sumber yang historis, melainkan hanya sekedar pemberitaan saja. Jika sekiranya Lukas ingin menjadi ahli sejarah, tentunya ia akan menulis peristiwa-peristiwa masa lampau dengan menyajikan satuan-satuan pemberitaan sebagai bagian dari pembentukan sejarah. Namun di sisi lain, ia justru malah menggambarkan peristiwa yang ada sebagai sebuah penggenapan. Apa yang disampaikannya, mengandung banyak hal yang tidak terdapat pada Injil lainnya. Adapun metode penulisan atas informasi yang selama itu ia dapatkan dengan apa yang ia tulis, tentunya berawal dari pengumpulan berbagai sumber yang ia dapatkan dengan metode penyisihan. Tidak ada informasi yang bisa kita dapatkan, tentang tolok ukur apa yang telah ia gunakan; baik dalam menangani perbedaan informasi yang telah beredar, maupun pemberitaan atas apa yang telah dituliskannya. Dengan kondisi seperti itu, tentunya kita bisa menyimpulkan, bahwa apa yang telah dituliskan oleh Lukas, bukanlah sebagai informasi tunggal kala itu. Apa yang ia tulis dalam prolognya tersebut, mengindikasikan bahwa apa yang ia tulis merupakan sebuah tanggapan atau reaksi dari adanya perbedaan informasi yang telah beredar di masyarakat kala itu. 

Senin, 19 Februari 2018

Siapakah Penulis Injil Markus ?



Pendahuluan
    Kristen meyakini, bahwa Markus adalah penulis Injil Markus, yang ia sendiri diyakini sebagai salah satu muridnya Yesus yang paling awal. Namun, pada saat penulis menelusuri pelbagai literatur bacaan tentang kepengarangan Injil Markus, ternyata Markus bukanlah salah satu dari dua belas murid Yesus,1 dan tidak ada alasan yang kuat untuk dipercaya bahwa dia adalah saksi mata dari setiap kejadian yang telah ia catat. Jika Markus bukanlah penulis Injil Markus, lalu siapakah yang menulis Injil tersebut ? Tentunya, jawaban yang disampaikan bagi pertanyaan tersebut, tidak sesederhana seperti pertanyaannya. Karena untuk memberikan jawaban tentang siapa kepengarangan Injil Markus, tentunya tidaklah begitu mudah, terlebih informasi yang terdapat pada Injil ini begitu sangat minim. Dan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, tentunya mau tidak mau, kita harus menggali informasi dari teks itu sendiri, selain menggunakan data eksternal yang sekiranya dianggap memadai, terlebih nama Markus bukanlah nama satu-satunya di kala itu.

Jumat, 09 Februari 2018

Doktrin Trinitas : Refleksi Historis - Teologis



Kata Pengantar
    Di saat kita membahas tentang teologi Kristen, sudah menjadi rahasia umum bahwa Kristen telah mewarisi teologi Yunani yang telah diterapkan dalam suatu cara yang khusus. Teologi menjadi terkemuka di kalangan Kristen, sebagai suatu cara untuk membumikan tradisi Kristen dalam kebudayaan Yunani-Romawi. Istilah Theologia dalam bahasa Yunani, hal tersebut mengacu kepada Tuhan-tuhan atau Tuhan. Namun bagi Athanasius, teologi sebenarnya memiliki makna teknis pengetahuan tentang Tuhan Trinitas, sementara oikonomia mencakup doktrin-doktrin gereja lainnya.1 Meskipun pada akhirnya, teologi memiliki keluasan makna hingga mencakup seluruh doktrin. Bahkan pada masa Aquinas, teologi tidak saja mencakup tentang doktrin, melainkan mencakup pula tentang etika spiritualitas, filsafat, peraturan-peraturan Gereja, dan mistisisme. Jika Athanasius meyakini bahwa teologi memiliki makna teknis terhadap Trinitas, tentunya keteknisan yang ada harus ditunjang dengan konsepsi yang jelas. Namun apa jadinya jika Trinitas yang diyakini oleh Kristen saat ini ternyata dihasilkan oleh perbedaan pendapat di kalangan Bapa-bapa Gereja ?2 Kenapa keyakinan yang membentuk iman Kristen terhadap Trinitas mengalami keevolusian ? Apakah benar, lahirnya gagasan tentang Trinitas pada awalnya tidak terpengaruh oleh keyakinan lain ? Karena hal itulah, penulis ingin membuka sedikit tirai yang selama ini tertutup atau mungkin ditutup-tutupi oleh Kristen, dalam membuktikan bahwa doktrin Trinitas pada dasarnya dihasilkan oleh para pemikir Yunani yang pada akhirnya pemikiran-pemikiran tersebut diserap oleh Bapa-bapa Gereja, dan mengakibatkan lahirnya perbedaan pandangan di kalangan Bapa Gereja dalam merasionalisasikan Tuhan Trinitas.

Sabtu, 13 Januari 2018

Sebuah Kata Pengantar Injil Markus



Pendahuluan
Sebelum masuk pada periode kritik modern, Injil Markus merupakan Injil yang paling banyak diabaikan. Injil ini, tidak banyak yang dibahas dan sedikit sekali buku tafsiran kuno yang ditulis untuknya.  Karena Injil Markus sering dianggap tidak lebih dari ringkasan Injil pertama, yakni Injil Matius. Jadi tidak mengherankan, bila Injil ini berada di bawah bayang-bayang Injil Matius yang dianggap lebih agung. Dan Injil Markus mulai dianggap penting, di saat pendapat dari para sarjana Kristen mulai melihatnya sebagai kunci dalam memecahkan problem sinoptik.

Adanya pendapat dari Agustinus bahwa Injil Markus merupakan ringkasan dari Injil Matius, telah diterima secara umum hingga awal abad ke-19 masehi. Setelah itu, teori prioritas terhadap Injil Markus pun mulai menguasai lapangan, dan bahkan telah dianggap sebagai hasil kritik yang terjamin. Dan untuk menghemat ruang, Insya Allah tentang hal itu akan penulis bahas pada tempat yang berbeda. Karena artikel kali ini membahas tentang pengantar khusus bagi Injil Markus, tentunya penulis tidak akan terlalu banyak memasukkan pikiran penulis ke dalam artikel ini, selain memberikan pelbagai kutipan dari pendapat para sarjana Kristen sendiri.

Kamis, 11 Januari 2018

Benarkah Matius Seorang Penulis Injil Matius ?




Pendahuluan
Sebelumnya, kita telah membahas tentang Injil Matius secara singkat dengan menggunakan pendekatan sastra yang diiringi dengan metode historis di sini. Tentu saja, pertanyaan yang muncul ialah, apakah kita dapat menyebut bahwa Injil Matius adalah sebuah Vita Jesus (riwayat hidup Yesus) ataukah tidak ? Karena Matius tidak saja terlibat dalam penyejarahan, melainkan Matius pun telah mengambil alih tradisi-tradisi yang lebih tua dalam siklusnya (Insya Allah, penulis akan membuat materi khusus tentang hal ini di ruang yang terpisah). Dan Matius sendiri, telah menempatkannya secara bersama-sama dalam cara yang begitu rupa, sehingga apa yang dituliskannya menjadi pemberitaan yang ditujukan kepada zamannya sendiri, tanpa mempunyai maksud bahwa apa yang sudah dituliskannya itu diperuntukan bagi orang-orang sesudahnya.

Jika Matius yang diyakini oleh Kristiani telah ikut andil dalam menyampaikan Yesus sejarah, tentu saja pertanyaan yang sangat krusial pun sudah selayaknya kita ajukan kepada pihak Kristen. Benarkah Matius seorang penulis Injil Matius ? Jika jawaban pihak Kristiani menyatakan iya, tentunya mereka mampu menyajikan berbagai bukti internal dan eksternal dalam menguatkan pendapatnya. Dan dari bukti-bukti yang dipaparkan oleh Kristen, perlu sekiranya kita pun melakukan pengujian ulang atas resistensi dalil yang digunakan oleh Kristen.

Senin, 04 September 2017

Sebuah Kata Pengantar Injil Matius



Pendahuluan
Injil Matius adalah kitab pertama dalam Perjanjian Baru. Dan bagi Kristen, penempatannya sebagai penghubung antara Perjanjian Lama (PL) dengan Perjanjian Baru (PB). Karena posisi Injil Matius termasuk dokumen tunggal terpenting dalam iman Kristen, Injil ini menjadi paling umum dibaca dan paling sering dikutip oleh jemaat mula-mula.1 Karena hal itulah, dalam ulasan kali ini penulis hanya memfokuskan diri pada Injil kanonik, yang diawali pembahasannya dengan Injil Matius dalam melakukan penelitian lebih lanjut terhadap Injil kanonik. Karena pada dasarnya, sebuah kata pengantar (dalam arti suatu disiplin sejarah) adalah pijakan dasar bagi para pembaca sebelum melakukan penilaian, atau pendalaman atas suatu teks sastra dalam perspektif historis, yang kelak akan berkaitan pembahasannya dengan kritik bentuk, kritik sumber, dan kritik tradisi, khususnya terhadap Injil Kanonik. Pengantar khusus ini, tentunya berkaitan pula dengan asal-mula suatu dokumen, yang menyangkut tentang kepengarangan, waktu dan tempat penulisan, alasan dan maksudnya, para pembaca yang dituju, integritas karya dan sumber-sumbernya. Dengan adanya ulasan ini, diharapkan bisa menambah wawasan khususnya dalam dialog lintas agama Islam Kristen.

Rabu, 12 Juli 2017

Mushaf Ubay bin Ka'ab



Pendahuluan.
Ubay bin Ka’ab bin Qais bin Zaid bin Muawiyah bin ‘Amr al-Anshari an-Najjar, adalah salah seorang sahabat Nabi yang dijuluki sebagai Abul Mundzir dan Abu Thufail. Ubay termasuk orang yang dahulu masuk Islam, dan termasuk pula sebagai kaum anshar. Ia pun termasuk salah seorang yang ikut pula pada perjanjian Aqabah kedua yang sudah mengenal baca tulis pada masa jahiliyah, dan berbagai peperangan telah diikutinya, termasuk perang Badar. Nama Ubay, dicantumkan di antara deretan para sekretaris Nabi saw oleh para ulama sejarah, yaitu Umar bin Syabah,1 Ath-Thabari,2 Ibnu Maskawaih,3 Al-Ya’qubi,4 Al-Jahsyayari,5 Ibnu Atsir,6 Al-Iraqi, 7 Al-Mizzi,8 Ibnu Katsir,9 dan lain-lain. Ubay bin Ka’ab adalah orang yang ahli dalam ilmu agama, dan termasuk pula orang yang bagus bacaan Al-Qur’annya. Hal tersebut dibuktikan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amru, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ambillah bacaan al-Qur'an dari empat orang. Yaitu dari Ibnu Mas'ud, Salim, maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal".10 Berkaitan tentang kapan wafatnya Ubay bin Ka’ab, para ahli sejarah berbeda pendapat. Menurut Ibnu Mu’in, Ubay meninggal pada tahun 20 atau 19 Hijriah. Sedangkan menurut al-Waqidi, Ubay meninggal pada tahun 22 Hijriah. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa ia meninggal pada 30 Hijriah. Dari riwayat lainnya dapat disimpulkan, bahwa Ubay meninggal sebelum peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan pada hari jumat.11

Rabu, 14 Juni 2017

Penyebab Yahudi Mengharapkan Mesias



Pendahuluan.
Kata Messiah dalam bahasa Aram adalah mesiha, yang jika dalam bahasa Ibrani adalah Mashiach. Di zaman purbakala, istilah tersebut biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai Christos, yang dalam bahasa Latin disebut Christus, sedangkan pada bahasa Inggris adalah Christ. Semua kata itu, secara literal berarti orang yang diurapi. Mesias biasanya mengacu pada seseorang yang di inisiasi ke dalam pelayanan Tuhan yang diurapi dengan minyak.1 Adapun gagasan tentang makhluk yang tidak berdosa, ilahi atau semi ilahi, yang akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi dosa, semua itu merupakan murni dari konsep Kristen yang tidak memiliki dasar sama sekali dalam pemikiran Yahudi. Sayangnya, konsep Kristen tersebut telah begitu tertanam dalam kata bahasa Inggris, yakni Messiah, sehingga kata bahasa Inggris ini tidak dapat lagi digunakan untuk merujuk pada konsep Yahudi.2

Kamis, 25 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB) bagian 2




Para penulis buku yang sekarang terdiri dari Perjanjian Baru (PB) tidak bermaksud agar tulisan mereka menggantikan atau menyaingi Perjanjian Lama (PL). Kitab Kristen pada awalnya dimaksudkan sebagai dokumen utilitarian, untuk menanggapi kebutuhan spesifik gereja mula-mula. Seiring dengan berjalannya waktu lebih dari seratus tahun setelah Yesus, orang-orang Kristen mulai menggunakan istilah Perjanjian Baru untuk merujuk pada tulisan suci bahwa gereja yang baru lahir itu mulai dipandang sebagai satu unit yang suci. Orang Kristen mula-mula memandang PB sebagai penggenap atas janji yang terdapat pada PL, dan bukan sebagai pengganti dari kitab suci Yahudi. PB seperti yang kita ketahui sekarang ini, terdiri dari dua puluh tujuh buku, namun aslinya tidak ditulis sebagai keseluruhan yang koheren dan Yesus sendiri tidak memproduksi catatan tertulis tentang pekerjaannya tersebut. Meskipun PB yang sekarang dimiliki oleh Kristen ditulis pada abad pertama, tetapi dibutuhkan waktu yang panjang untuk diterima sebagai otoritas universal. Awalnya, hanya kehidupan dan ucapan Kristus yang dianggap sama dengan kitab suci Perjanjian Lama. Misalnya, Hegessipus pada paruh pertama abad kedua hanya menerima hukum, para Nabi, dan hak Tuhan, sebagai norma-norma yang dianggap sebagai iman yang benar.1 Lalu pada paruh pertama abad ketiga di Suriah Utara, menyatakan bahwa norma otoritatif adalah kitab suci dan Injil Allah.2

Sabtu, 13 Mei 2017

Menjawab Dakwaan Terhadap Mushaf Ibn Mas'ud




Pendahuluan.
Sebelum menelaah tentang mushaf Ibn Mas’ud atau riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada Ibn Mas’ud, perlu untuk sekiranya dipahami, bahwa mushaf yang disepakati oleh umat dan dibaca oleh seluruh kaum Muslimin di berbagai daerah adalah mushaf Utsmani yang diriwayatkan secara mutawatir. Konsensus (ijma’) para sahabat ini, tidak akan menjadi gugur dengan adanya penolakan dari Ibn Mas’ud. Adapun alasan Ibn Mas’ud melakukan penolakan untuk membakar mushafnya, sudah penulis sampaikan pada Artikel ini.

Ibn Mas’ud adalah sahabat Nabi Muhammad saw yang berasal dari suku Hudzail, ia menjadi salah seorang guru dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat umum. Di antara para muridnya ada yang berasal dari suku Hudzail, Tamim, Quraisy, dan lainnya. Para penduduk Kufah, belajar sastra, bahasa, dan bacaan Al-Qur’an kepada Ibn Mas’ud (1). Ia mendiktekan Al-Qur’an kepada mereka sesuai dengan apa yang dipelajarinya dari Rasulullah Saw, dalam batasan dispensasi dari huruf yang tujuh. Sudah barang tentu, Ibn Mas’ud mendukung salah satu dialek tertentu, sementara ia tahu kalau salah satu huruf yang tujuh adalah perbedaan di antara dialek. Ia hanya berusaha mengajarkan kepada setiap murid yang datang kepadanya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Kamis, 11 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB)




Jika anda betul-betul mempelajari dan memahami proses kodifikasi Alquran dari mulai zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini, teks asli dan bahasa asli yang terdapat pada Alquran masih tetap digunakan dan masih sama isinya. Masih digunakannya teks asli dan bahasa asli pada Alquran, hal itu dilakukan untuk mencegah adanya penyisipan dan penyimpangan atas Firman Allah, baik dalam aspek penterjemahan, penafsiran, serta pengamalan. Metode yang digunakan oleh Nabi dalam mentransformasi wahyu kepada para sahabat, berupa hapalan dan murajaah. Yang ternyata, metode tersebut belum pernah dilakukan oleh bangsa dan agama manapun. Tapi lain halnya, jika kita meninjau Alkitab. Karena pada Alkitab, tidak adanya teks dan bahasa asli, yang hal tersebut telah menuai perbedaan pendapat di kalangan sarjana Kristen, seperti halnya tentang perbedaan antara “arti asli ayat” dengan “makna ayat”, yang hal tersebut menyangkut tentang penerapan antara rekontruksi historis, deskriptif dan objektif, dengan penafsiran teologis dan normatif. Implikasi atas terjadinya silang pendapat tersebut, bisa di lihat seperti terjadi diantara para sarjana teologi, seperti Childs dengan Stendahl. Misalnya, B. S. Childs (3) mengajukan keberatannya terhadap pendekatan historis dan deskriptif yang diterapkan pada Alkitab. Karena menurutnya, hal tersebut dianggap membatasi ruang dalam menafsirkan dan memahami ayat-ayat Alkitab. Sedangkan menurut Stendahl (4), mengakui bahwa tugas deskriptif mampu menguraikan ayat-ayat Alkitab secara lebih luas daripada apa yang terkandung di dalam ayat-ayat itu dalam maksud dan fungsi ayat-ayat itu sepanjang zaman.

Rabu, 03 Mei 2017

Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an bag. 3




Berkaitan tentang banyaknya bacaan, salah satu tokoh dari Jaringan Islam Liberal ( JIL)  yang bernama Luthfi Asy-Syaukanie, mengatakan :

“Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). (1)
Apa yang dipaparkan oleh Luthfi diatas, mengimplikasikan dengan banyaknya bacaan, hal tersebut menyebabkan adanya perbedaan isi teks yang bersifat tekstual. Berarti konsekuensi logisnya yaitu, disaat adanya perbedaan atas apa yang ditulis, tentunya akan berbeda pula atas apa yang dibacanya. Padahal, para penulis buku tentang biografi para qari’, selalu membedakan periwayatan dari segi memaparkan, mendengarkan dan menyampaikan. Mereka menyebut bagian pertama dengan istilah qira’ah atau bacaan, dan menyebut istilah kedua dengan istilah huruf. Sangat jarang dijumpai adanya penyebutan huruf dengan menggunakan istilah qira’ah, yang ada penyebutan istilah huruf dengan menggunakan istilah riwayah. Jadi sebenarnya, apa yang dimaksud oleh Luthfi diatas, penulis melihat adanya miskonsepsi perihal riwayah dan qira’ah itu sendiri. Karena pengertian huruf dengan riwayah, mempunyai makna yang berbeda.

Rabu, 26 April 2017

Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an bag. 2




Selanjutnya, Luthfi menuturkan sebagai berikut :

"Perbedaan antara mushaf Utsman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].” Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal’ dan al-Hafd.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku ‘ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian." (1)

Luthfi menuding, bahwa jumlah ayat pada surat Al-Ahzab telah dipotong pada zaman Ustman sebagaimana ungkapan yang sebelumnya pernah disampaikan oleh seorang Kristen yang bernama Abdul Masih Al-Kindi. Untuk memperkuat tudingannya, bahwa pada mushaf Utsman terdapat perbedaan isi dengan mushaf para sahabat, dia mencatut nama Ubai bin Ka’ab berkenaan dengan surat Al-Khal’u dan surat Al-Hafdu yang kedua surat tersebut, tidak terdapat pula pada mushaf Ustman. Suatu yang mustahil terjadi, bahwa suatu kebenaran yang ada datang cuma dari seorang sahabat Nabi, meskipun hal tersebut datang dari istrinya Nabi, dan tidak ada para sahabat lainnya yang meriwayatkan tentang hal tersebut sebagaimana yang diangkat oleh Luthfi. Hadits ahad yang berkenaan tentang jumlah surat Al-Ahzab dan doa-doa yang yang terdapat pada mushaf Ubai bin Ka'ab tersebut, jika dibandingkan dengan validitasi informasi secara mutawatir, tentunya hadits ahad bisa dianggap sebagai pengakuan sebelah pihak atau sebagai penisbahan semata, karena para sahabat yang memiliki mushaf selain mereka dan juga para penulis wahyu pada zaman Nabi, ternyata para sahabat tidak memberikan keterangan yang sama sebagaimana tudingan yang dilontarkan diatas. Padahal, penyampaian bisa diterima karena diriwayatkan secara mutawatir oleh para sahabat dan adanya saksi sebagai penguat atas apa yang terdapat pada mushaf para sahabat. Tanpa adanya periwayatan secara mutawatir dan adanya dua saksi, tentunya siapapun bisa mengklaim bahwa mushaf yang terdapat pada dirinya, itu adalah firman Allah yang ditulis di zaman Nabi dan bahkan, didalamnya bisa terjadi penyisipan atau pengeditan dikemudian hari.

Minggu, 23 April 2017

Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an bag. 1



Oleh : Sang Misionaris.

Para orientalis telah menerapkan metodologi kritiknya terhadap Al-Qur'an, yang sebelumnya telah mereka terapkan terhadap Alkitab. Mereka menghimpun berbagai pendapat, asumsi, dan pandangan, lalu menyimpulkannya dengan melakukan analisis yang relevan dengan tempat, waktu, dan kondisi. Mereka hanya menaruh perhatian pada matan, tetapi tidak pada sanadnya (1). Keadaan demikian, ternyata diikuti dan diteruskan oleh kelompok yang bernama Jaringan Islam Liberal (JIL). Jadi pada dasarnya, apa yang mereka sampaikan tentang sejarah kodifikasi Al-Qur'an, bukanlah hal yang baru, karena apa yang mereka sampaikan hanyalah bentuk pengulangan saja, atas apa yang telah disampaikan oleh kalangan orientalis, kala itu. Adapun para orientalis yang melakukan penelitian tentang sejarah kodifikasi Al-Quran, mulai dari Noldeke, penulis buku Tarikh Al-Qur'an yang dipublikasikan tahun 1860 M, sampai orientalis yang datang sesudahnya yang melengkapi metodologinya seperti Schawally, Bergstrasser, Bretzl, dan Arthur Jeffery. Dan yang paling mukhtahir adalah seorang orientalis dari Prancis yang bernama R. Blachere, yang dalam bukunya berjudul Al-Madkhal ila Al-Qur'an dan terjemahan Al-Qur'annya. Adapun topik yang diangkat oleh penulis kali ini, hanya fokus memberikan sanggahan secara substansialnya saja terhadap tulisan yang telah dibuat oleh salah seorang dari kalangan JIL yang bernama Luthfi Assyaukanie, dengan topik "Merenungkan Sejarah Alquran", yang ia tulis pada website islamlib.com.

Keselamatan Bayi Menurut Islam Dan Kristen


Oleh : Sang Misionaris.


Setiap orang yang mengimani adanya kehidupan sesudah kematian, pasti mengharapkan keselamatan. Tetapi yang menjadi persoalannya, disaat seseorang meyakini adanya kehidupan sesudah kematian, apakah ajaran yang dia yakini selama ini, benar-benar bisa memberikan jaminan tentang keselamatan kepada semua orang tanpa adanya pandang bulu (pilih kasih) ataukah tidak ?

Makna pilih kasih, bukan mengarah kepada perbedaan atas apa yang kelak akan dia dan orang lain dapatkan, sebab semuanya bergantung kepada apa yang diusahakannya ketika saat berada didunia, tetapi mengarah kepada sipenerima keselamatan itu sendiri, dari bayi sampai kepada orang dewasa. Jika setiap orang ditanya tentang hal itu pasti akan memberikan jawabannya, semisal umat Islam dan Kristen, bahwa setiap orang pasti menerima keselamatan. Tetapi lain halnya jika kita membahas tentang keselamatan bagi bayi dan anak, dalam Islam terdapat kepastian atas keselamatan bagi mereka, tetapi didalam Kristen hal itu masih bersifat ambigu. Benarkah demikian ? Mari kita cermati bersama.

Malaikat Tuhan Menurut Kristen


Oleh : Sang Misionaris.


Adanya keyakinan Kristen tentang Allah bisa menjelma dan akhirnya bisa melakukan inkarnasi, menurut mereka, hal tersebut adalah sebuah bentuk pembuktian bahwa Allah itu hidup, yang dengan hidup-Nya itu, Dia melakukan karya ditengah-tengah manusia dalam rangka untuk menyelamatkan manusia yang sudah jatuh kedalam dosa. Adanya keyakinan Kristen tersebut, semuanya didasari karena adanya antropomorfisme dan antropopatisme didalam Alkitab. Demi membenarkan atas apa yang mereka yakini, acapkali Kristen selalu melakukan pendangkalan aqidah kepada umat Islam. Seperti melakukan penudingan terhadap umat Islam, bahwa didalam Alquran dan Hadits terdapat antropomorfisme dan antropopatisme. Mereka bersikap seperti itu, untuk memberikan kesan kepada umat Islam, bahwa didalam ajaran Islam sendiri pun ternyata adanya kesamaan dan mendukung atas apa yang mereka yakini selama ini, yang hal itu dianggapnya telah memberikan legitimasi atas keyakinan mereka. Padahal didalam ajaran Islam,  antropomorfisme (Qs. 3:73,7:54) dan antropopatisme ( Qs. 1:1,2:61) tidaklah mengindikasikan sama sekali bahwa Allah memiliki kesamaan dengan makhluk-Nya, yang tentunya sebagai makhluk adanya dimensi, ruang dan waktu yang membatasinya, apalagi mempunyai kesamaan dengan keyakinan yang selama ini diyakini oleh Kristen.