Rabu, 26 April 2017

Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an bag. 2



Oleh : Sang Misionaris.


Selanjutnya, Luthfi menuturkan sebagai berikut :

"Perbedaan antara mushaf Utsman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].” Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal’ dan al-Hafd.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku ‘ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian." (1)

Luthfi menuding, bahwa jumlah ayat pada surat Al-Ahzab telah dipotong pada zaman Ustman sebagaimana ungkapan yang sebelumnya pernah disampaikan oleh seorang Kristen yang bernama Abdul Masih Al-Kindi. Untuk memperkuat tudingannya, bahwa pada mushaf Utsman terdapat perbedaan isi dengan mushaf para sahabat, dia mencatut nama Ubai bin Ka’ab berkenaan dengan surat Al-Khal’u dan surat Al-Hafdu yang kedua surat tersebut, tidak terdapat pula pada mushaf Ustman. Suatu yang mustahil terjadi, bahwa suatu kebenaran yang ada datang cuma dari seorang sahabat Nabi, meskipun hal tersebut datang dari istrinya Nabi, dan tidak ada para sahabat lainnya yang meriwayatkan tentang hal tersebut sebagaimana yang diangkat oleh Luthfi. Hadits ahad yang berkenaan tentang jumlah surat Al-Ahzab dan doa-doa yang yang terdapat pada mushaf Ubai bin Ka'ab tersebut, jika dibandingkan dengan validitasi informasi secara mutawatir, tentunya hadits ahad bisa dianggap sebagai pengakuan sebelah pihak atau sebagai penisbahan semata, karena para sahabat yang memiliki mushaf selain mereka dan juga para penulis wahyu pada zaman Nabi, ternyata para sahabat tidak memberikan keterangan yang sama sebagaimana tudingan yang dilontarkan diatas. Padahal, penyampaian bisa diterima karena diriwayatkan secara mutawatir oleh para sahabat dan adanya saksi sebagai penguat atas apa yang terdapat pada mushaf para sahabat. Tanpa adanya periwayatan secara mutawatir dan adanya dua saksi, tentunya siapapun bisa mengklaim bahwa mushaf yang terdapat pada dirinya, itu adalah firman Allah yang ditulis di zaman Nabi dan bahkan, didalamnya bisa terjadi penyisipan atau pengeditan dikemudian hari.

Minggu, 23 April 2017

Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an bag. 1



Oleh : Sang Misionaris.

Para orientalis telah menerapkan metodologi kritiknya terhadap Al-Qur'an, yang sebelumnya telah mereka terapkan terhadap Alkitab. Mereka menghimpun berbagai pendapat, asumsi, dan pandangan, lalu menyimpulkannya dengan melakukan analisis yang relevan dengan tempat, waktu, dan kondisi. Mereka hanya menaruh perhatian pada matan, tetapi tidak pada sanadnya (1). Keadaan demikian, ternyata diikuti dan diteruskan oleh kelompok yang bernama Jaringan Islam Liberal (JIL). Jadi pada dasarnya, apa yang mereka sampaikan tentang sejarah kodifikasi Al-Qur'an, bukanlah hal yang baru, karena apa yang mereka sampaikan hanyalah bentuk pengulangan saja, atas apa yang telah disampaikan oleh kalangan orientalis, kala itu. Adapun para orientalis yang melakukan penelitian tentang sejarah kodifikasi Al-Quran, mulai dari Noldeke, penulis buku Tarikh Al-Qur'an yang dipublikasikan tahun 1860 M, sampai orientalis yang datang sesudahnya yang melengkapi metodologinya seperti Schawally, Bergstrasser, Bretzl, dan Arthur Jeffery. Dan yang paling mukhtahir adalah seorang orientalis dari Prancis yang bernama R. Blachere, yang dalam bukunya berjudul Al-Madkhal ila Al-Qur'an dan terjemahan Al-Qur'annya. Adapun topik yang diangkat oleh penulis kali ini, hanya fokus memberikan sanggahan secara substansialnya saja terhadap tulisan yang telah dibuat oleh salah seorang dari kalangan JIL yang bernama Luthfi Assyaukanie, dengan topik "Merenungkan Sejarah Alquran", yang ia tulis pada website islamlib.com.

Keselamatan Bayi Menurut Islam Dan Kristen


Oleh : Sang Misionaris.


Setiap orang yang mengimani adanya kehidupan sesudah kematian, pasti mengharapkan keselamatan. Tetapi yang menjadi persoalannya, disaat seseorang meyakini adanya kehidupan sesudah kematian, apakah ajaran yang dia yakini selama ini, benar-benar bisa memberikan jaminan tentang keselamatan kepada semua orang tanpa adanya pandang bulu (pilih kasih) ataukah tidak ?

Makna pilih kasih, bukan mengarah kepada perbedaan atas apa yang kelak akan dia dan orang lain dapatkan, sebab semuanya bergantung kepada apa yang diusahakannya ketika saat berada didunia, tetapi mengarah kepada sipenerima keselamatan itu sendiri, dari bayi sampai kepada orang dewasa. Jika setiap orang ditanya tentang hal itu pasti akan memberikan jawabannya, semisal umat Islam dan Kristen, bahwa setiap orang pasti menerima keselamatan. Tetapi lain halnya jika kita membahas tentang keselamatan bagi bayi dan anak, dalam Islam terdapat kepastian atas keselamatan bagi mereka, tetapi didalam Kristen hal itu masih bersifat ambigu. Benarkah demikian ? Mari kita cermati bersama.

Malaikat Tuhan Menurut Kristen


Oleh : Sang Misionaris.


Adanya keyakinan Kristen tentang Allah bisa menjelma dan akhirnya bisa melakukan inkarnasi, menurut mereka, hal tersebut adalah sebuah bentuk pembuktian bahwa Allah itu hidup, yang dengan hidup-Nya itu, Dia melakukan karya ditengah-tengah manusia dalam rangka untuk menyelamatkan manusia yang sudah jatuh kedalam dosa. Adanya keyakinan Kristen tersebut, semuanya didasari karena adanya antropomorfisme dan antropopatisme didalam Alkitab. Demi membenarkan atas apa yang mereka yakini, acapkali Kristen selalu melakukan pendangkalan aqidah kepada umat Islam. Seperti melakukan penudingan terhadap umat Islam, bahwa didalam Alquran dan Hadits terdapat antropomorfisme dan antropopatisme. Mereka bersikap seperti itu, untuk memberikan kesan kepada umat Islam, bahwa didalam ajaran Islam sendiri pun ternyata adanya kesamaan dan mendukung atas apa yang mereka yakini selama ini, yang hal itu dianggapnya telah memberikan legitimasi atas keyakinan mereka. Padahal didalam ajaran Islam,  antropomorfisme (Qs. 3:73,7:54) dan antropopatisme ( Qs. 1:1,2:61) tidaklah mengindikasikan sama sekali bahwa Allah memiliki kesamaan dengan makhluk-Nya, yang tentunya sebagai makhluk adanya dimensi, ruang dan waktu yang membatasinya, apalagi mempunyai kesamaan dengan keyakinan yang selama ini diyakini oleh Kristen.