Kamis, 25 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB) bagian 2



Oleh : Sang Misionaris.



Para penulis buku yang sekarang terdiri dari Perjanjian Baru (PB) tidak bermaksud agar tulisan mereka menggantikan atau menyaingi Perjanjian Lama (PL). Kitab Kristen pada awalnya dimaksudkan sebagai dokumen utilitarian, untuk menanggapi kebutuhan spesifik gereja mula-mula. Seiring dengan berjalannya waktu lebih dari seratus tahun setelah Yesus, orang-orang Kristen mulai menggunakan istilah Perjanjian Baru untuk merujuk pada tulisan suci bahwa gereja yang baru lahir itu mulai dipandang sebagai satu unit yang suci. Orang Kristen mula-mula memandang PB sebagai penggenap atas janji yang terdapat pada PL, dan bukan sebagai pengganti dari kitab suci Yahudi. PB seperti yang kita ketahui sekarang ini, terdiri dari dua puluh tujuh buku, namun aslinya tidak ditulis sebagai keseluruhan yang koheren dan Yesus sendiri tidak memproduksi catatan tertulis tentang pekerjaannya tersebut. Meskipun PB yang sekarang dimiliki oleh Kristen ditulis pada abad pertama, tetapi dibutuhkan waktu yang panjang untuk diterima sebagai otoritas universal. Awalnya, hanya kehidupan dan ucapan Kristus yang dianggap sama dengan kitab suci Perjanjian Lama. Misalnya, Hegessipus pada paruh pertama abad kedua hanya menerima hukum, para Nabi, dan hak Tuhan, sebagai norma-norma yang dianggap sebagai iman yang benar.1 Lalu pada paruh pertama abad ketiga di Suriah Utara, menyatakan bahwa norma otoritatif adalah kitab suci dan Injil Allah.2

Sabtu, 13 Mei 2017

Menjawab Dakwaan Terhadap Mushaf Ibn Mas'ud






Oleh : Sang Misionaris.

Pendahuluan.
Sebelum menelaah tentang mushaf Ibn Mas’ud atau riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada Ibn Mas’ud, perlu untuk sekiranya dipahami, bahwa mushaf yang disepakati oleh umat dan dibaca oleh seluruh kaum Muslimin di berbagai daerah adalah mushaf Utsmani yang diriwayatkan secara mutawatir. Konsensus (ijma’) para sahabat ini, tidak akan menjadi gugur dengan adanya penolakan dari Ibn Mas’ud. Adapun alasan Ibn Mas’ud melakukan penolakan untuk membakar mushafnya, sudah penulis sampaikan pada Artikel ini.

Ibn Mas’ud adalah sahabat Nabi Muhammad saw yang berasal dari suku Hudzail, ia menjadi salah seorang guru dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat umum. Di antara para muridnya ada yang berasal dari suku Hudzail, Tamim, Quraisy, dan lainnya. Para penduduk Kufah, belajar sastra, bahasa, dan bacaan Al-Qur’an kepada Ibn Mas’ud (1). Ia mendiktekan Al-Qur’an kepada mereka sesuai dengan apa yang dipelajarinya dari Rasulullah Saw, dalam batasan dispensasi dari huruf yang tujuh. Sudah barang tentu, Ibn Mas’ud mendukung salah satu dialek tertentu, sementara ia tahu kalau salah satu huruf yang tujuh adalah perbedaan di antara dialek. Ia hanya berusaha mengajarkan kepada setiap murid yang datang kepadanya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Kamis, 11 Mei 2017

Menggugat Otoritas Perjanjian Baru (PB)


Oleh : Sang Misionaris.


Jika anda betul-betul mempelajari dan memahami proses kodifikasi Alquran dari mulai zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini, teks asli dan bahasa asli yang terdapat pada Alquran masih tetap digunakan dan masih sama isinya. Masih digunakannya teks asli dan bahasa asli pada Alquran, hal itu dilakukan untuk mencegah adanya penyisipan dan penyimpangan atas Firman Allah, baik dalam aspek penterjemahan, penafsiran, serta pengamalan. Metode yang digunakan oleh Nabi dalam mentransformasi wahyu kepada para sahabat, berupa hapalan dan murajaah. Yang ternyata, metode tersebut belum pernah dilakukan oleh bangsa dan agama manapun. Tapi lain halnya, jika kita meninjau Alkitab. Karena pada Alkitab, tidak adanya teks dan bahasa asli, yang hal tersebut telah menuai perbedaan pendapat di kalangan sarjana Kristen, seperti halnya tentang perbedaan antara “arti asli ayat” dengan “makna ayat”, yang hal tersebut menyangkut tentang penerapan antara rekontruksi historis, deskriptif dan objektif, dengan penafsiran teologis dan normatif. Implikasi atas terjadinya silang pendapat tersebut, bisa di lihat seperti terjadi diantara para sarjana teologi, seperti Childs dengan Stendahl. Misalnya, B. S. Childs (3) mengajukan keberatannya terhadap pendekatan historis dan deskriptif yang diterapkan pada Alkitab. Karena menurutnya, hal tersebut dianggap membatasi ruang dalam menafsirkan dan memahami ayat-ayat Alkitab. Sedangkan menurut Stendahl (4), mengakui bahwa tugas deskriptif mampu menguraikan ayat-ayat Alkitab secara lebih luas daripada apa yang terkandung di dalam ayat-ayat itu dalam maksud dan fungsi ayat-ayat itu sepanjang zaman.

Rabu, 03 Mei 2017

Sejarah Kodifikasi Al-Qur'an bag. 3


Oleh : Sang Misionaris.


Berkaitan tentang banyaknya bacaan, salah satu tokoh dari Jaringan Islam Liberal ( JIL)  yang bernama Luthfi Asy-Syaukanie, mengatakan :

“Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). (1)
Apa yang dipaparkan oleh Luthfi diatas, mengimplikasikan dengan banyaknya bacaan, hal tersebut menyebabkan adanya perbedaan isi teks yang bersifat tekstual. Berarti konsekuensi logisnya yaitu, disaat adanya perbedaan atas apa yang ditulis, tentunya akan berbeda pula atas apa yang dibacanya. Padahal, para penulis buku tentang biografi para qari’, selalu membedakan periwayatan dari segi memaparkan, mendengarkan dan menyampaikan. Mereka menyebut bagian pertama dengan istilah qira’ah atau bacaan, dan menyebut istilah kedua dengan istilah huruf. Sangat jarang dijumpai adanya penyebutan huruf dengan menggunakan istilah qira’ah, yang ada penyebutan istilah huruf dengan menggunakan istilah riwayah. Jadi sebenarnya, apa yang dimaksud oleh Luthfi diatas, penulis melihat adanya miskonsepsi perihal riwayah dan qira’ah itu sendiri. Karena pengertian huruf dengan riwayah, mempunyai makna yang berbeda.