Minggu, 23 April 2017

Malaikat Tuhan Menurut Kristen


Oleh : Sang Misionaris.


Adanya keyakinan Kristen tentang Allah bisa menjelma dan akhirnya bisa melakukan inkarnasi, menurut mereka, hal tersebut adalah sebuah bentuk pembuktian bahwa Allah itu hidup, yang dengan hidup-Nya itu, Dia melakukan karya ditengah-tengah manusia dalam rangka untuk menyelamatkan manusia yang sudah jatuh kedalam dosa. Adanya keyakinan Kristen tersebut, semuanya didasari karena adanya antropomorfisme dan antropopatisme didalam Alkitab. Demi membenarkan atas apa yang mereka yakini, acapkali Kristen selalu melakukan pendangkalan aqidah kepada umat Islam. Seperti melakukan penudingan terhadap umat Islam, bahwa didalam Alquran dan Hadits terdapat antropomorfisme dan antropopatisme. Mereka bersikap seperti itu, untuk memberikan kesan kepada umat Islam, bahwa didalam ajaran Islam sendiri pun ternyata adanya kesamaan dan mendukung atas apa yang mereka yakini selama ini, yang hal itu dianggapnya telah memberikan legitimasi atas keyakinan mereka. Padahal didalam ajaran Islam,  antropomorfisme (Qs. 3:73,7:54) dan antropopatisme ( Qs. 1:1,2:61) tidaklah mengindikasikan sama sekali bahwa Allah memiliki kesamaan dengan makhluk-Nya, yang tentunya sebagai makhluk adanya dimensi, ruang dan waktu yang membatasinya, apalagi mempunyai kesamaan dengan keyakinan yang selama ini diyakini oleh Kristen.



Yang dimaksud dengan antropomorfisme ialah pengumpamaan atau pelukisan sesuatu (objek) yang bukan manusia, bergerak dan bertindak seolah-olah manusia yang hidup. Sedangkan antropopatisme ialah pengumpamaan atau pelukisan suatu (objek) yang bukan manusia, berperasaan seperti layaknya manusia. 

Bahasa memang bisa menjadi sarana untuk berteologi, dan berteologi adalah proses membahasakan Allah. Dengan demikian, dalam berteologi bahasa digunakan secara efektif dan komunikatif untuk menyampaikan firman Allah kepada manusia tanpa harus menyamakan perbuatan yang kita lakukan dengan apa yang Allah lakukan serta tidak menyamakan apa yang kita rasa dengan yang Allah rasakan. Alih-alih berteologi, seseorang sering melebih-lebihkan dengan alam pikirannya sendiri dalam menggambarkan diri Allah dan apa yang Allah perbuat, seperti halnya yang dilakukan oleh Kristen. 

Misalnya, Kristen meyakini bahwa Allah turun kebumi dan menjadi manusia (inkarnasi), yang dimaksudkan bahwa inkarnasi tersebut diyakini untuk menebus dosa manusia. Tetapi keyakinan Kristen tersebut, ternyata kontraproduktif dengan apa yang ada didalam kitabnya sendiri, Alkitab. Karena disisi lain, Kristen meyakini bahwa Allah adalah Maha Pengampun (Kej. 18:26, Bil. 14:20, 2Taw 7:14, Mat. 6:14, Kpr. 8:22) dan Maha Kuasa (Kej. 17:1). Dengan adanya penggambaran didalam Alkitab bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Kuasa, maka konsekuensi logisnya adalah Allah tidak perlu untuk berinkarnasi untuk bisa mengampuni dosa manusia. Terlebih diutusnya para Nabi dan Rasul oleh Allah, yang menyampaikan tentang jalan yang baik dan buruk sudah Allah utus, selain mengenalkan kepada manusia tentang adanya keselamatan dan kesengsaraan bagi yang mentaati dan yang melanggarnya. Allah adalah Dzat / Zat, yang tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu, sebagaimana ciptaan-Nya. Justru keyakinan Kristen tentang adanya inkarnasi Allah, hal tersebut telah mengkerdilkan dan bahkan menghina tentang ke-Mahaan yang dimiliki-Nya. Karena jika inkarnasi disematkan kepada Allah, maka Ke-Mahaan yang dimiliki-Nya, akan berbanding lurus dengan kekurangan dan keterbatasan-Nya yang kelak akan dimiliki-Nya, sebagaimana yang dimiliki oleh ciptaan-Nya sendiri.


Bagi Kristen, Alkitab dianggap sebagai hasil kesusastraan yang berisi tentang Allah dan penyelamatan yang dilakukan-Nya dalam sejarah manusia. Jika dicermati, dasar Kristen yang meyakini Allah melakukan inkarnasi, itu berpijak pada narasi tentang kedatangan tiga tamu kepada Abraham, pergumulan Allah dengan Yakub, dan pertemuan Allah dengan Musa di semak-semak. Apakah benar, dasar pijakan Kristen atas narasi tersebut memang mencerminkan tentang adanya inkarnasinya Allah ? Mari kita bahas.
 1.) Abraham Kedatangan Tamu.
Dalam Kejadian 18:1-33, mengkisahkan bahwa Tuhan kala itu berinkarnasi dan menjadi salah satu dari tiga orang yang mendatangi Abraham. Menurut Nosson Scherman, dalam The Chumash : Beresyit/Genesis, bahwa ketiga tamu itu salah satunya bukanlah Tuhan. Tetapi ketiganya adalah malaikat, yakni Mikhael, Gabriel, dan Rafael. Yang ketiganya mempunyai masing-masing tugas, seperti Mikhael yang bertugas menyampaikan kepada Sarah bahwa ia akan melahirkan anak laki-laki, Gabriel bertugas menghukum Sodom dan Gomora, dan Rafael bertugas menyelamatkan Abraham dan Lot. Mengenai kisah Abraham, Simpson berpendapat, bahwa cerita asli masih terdapat dalam ayat 1b-3,4-8. Sedangkan selebihnya merupakan narasi baru (sisipan) yang didapatkan dari penulis Yahwis (The Book of Genesis : Introduction and Exegesis).

2.) Yakub Bergumul Dengan Allah
Di Kej. 32:22-32, dalam ayat itu dikisahkan pula bahwa Yakub bergumul dengan Tuhan, yang pada akhirnya, Yakub menang dalam adu jotos melawan Tuhan. Apakah benar,  yang melakukan adu jotos itu antara manusia dengan Tuhan, yang Tuhan sendiri notabenenya adalah Maha Kuasa ? Untuk mengurai permasalahan tersebut, persoalan disini ialah, siapakah ha'isy (laki-laki) yang dimaksud itu ? Ada penafsir yang mengatakan bahwa Yakub menduga ia sedang berkelahi melawan hantu malam yang jahat yang menguasai tempat itu atau melawan suatu roh yang menunggui tempat tersebut (Walter Lempp, Tafsiran Kejadian, jilid IV/bag. II dan G.A.Simpson, The book of Genesis : Introduction and Exegesis, dalam The Interpreter's Bible, Vol. I). Tetapi menurut L. Oranje, bahwa Yakub di duga sedang berkelahi melawan Esau (Pergumulan Jakub di Jabok, dalam SETIA : Majalah Theologia Indonesia, No. 2 thn 1971).

3.) Pertemuan Musa Dengan Allah.

Kel. 3:1-22, dalam ayat tersebut diyakini oleh Kristen bahwa yang ketemu dengan Musa adalah Tuhan, bukan malaikat Tuhan. Padahal Malaikat dalam Alkitab (Ibrani malakh, Yunani angelos) menurut etimologi dan pengertian, adalah pesuruh Allah, yg mengenal-Nya muka dengan muka, karena itu mempunyai kelebihan daripada manusia. Menurut PL, Malaikat pernah menampakkan diri pula kepada manusia sebagai pembawa perintah dan berita khusus dari Tuhan (Hakim-hakim 6:11-23 dan 13:3-5) dan mereka pun dapat melakukan tugas bantuan militer (2 Raja-raja 19:35). Jadi jelas, yang ketemu dengan Musa bukanlah Tuhan tetapi Malaikat Tuhan.


Ayat-ayat diatas adalah pijakan dasar atas keyakinan Kristen, bahwa Tuhan pernah menampakkan Diri-Nya dihadapan manusia. Yang ternyata, mengenai ayat diatas, itu sebuah misinterpretasi dikarenakan Kristen tidak bisa membedakan tentang Malaikat Tuhan dengan Tuhan itu sendiri. Padahal Malaikat Tuhan, adalah kata sandang yang yang hal itu mengarah pada Malaikat Tuhan yang notabenenya adalah sebagai utusan Tuhan dan utusan Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri.

Masih menurut Alkitab, bahwa Malaikat pun memang pernah menampakkan diri kepada manusia sebagai pembawa perintah dan berita khusus dari Allah (Hak. 6:11-23,13:3-5). Mereka dapat memberi bantuan khas untuk pelayan-pelayan Allah yang miskin (1Raj. 19:1-7). Selain itu, mereka pun dapat melakukan tugas bantuan militer (2Raj. 19:35 dst), dan jarang sekali, permusuhan secara aktif terhadap Israel (2Sam. 24:16). Orang-orang dari Sodom (Kej. 19) atau orang-orang lain yg melakukan kejahatan mereka pukul. 

Jika Islam menolak tentang adanya theofani (Tuhan menampakkan diri menjadi manusia) sebagaimana keyakinan Kristen, yang hal tersebut muncul karena didasari oleh misinterpretasi tehadap antropomorfisme dan antropopatisme, apakah dalam Islam meyakini bahwa Malaikat pernah menampakkan diri kepada manusia ? Islam membenarkan tentang adanya Malaikat yang pernah menampakkan diri menjadi manusia. Malaikat pernah menampakkan diri baik kepada maryam (Qs. 19:17), kepada Nabi Muhammad saw (Qs. 53:6), dan bahkan pernah menampakkan diri dihadapan para sahabat, disaat menanyakan tentang masalah iman,islam,ihsan dan terjadinya hari kiamat kepada Nabi Muhammad (Hr. Bukhari, hadits no 48, dan 4404. Hr. Muslim, hadits no 10. Hr. Tirmidzi, hadits no 2535.).

Jika bukti-bukti diatas, masih saja Kristen meyakini bahwa Malaikat Tuhan adalah Tuhan sendiri dan masih gagal paham pula dalam memahami makna dari istilah Malaikat Tuhan, silahkan perhatikan ayat-ayat dibawah ini, yang kalimatnya saya ditulis dengan huruf KAPITAL :
a.) Kej. 24:52 = Ketika HAMBA ABRAHAM itu mendengar perkataan mereka, sujudlah ia sampai ke tanah menyembah TUHAN. 
b.) Kej. 36:24 = Inilah anak-anak Zibeon: Aya dan Ana; Ana inilah yang menemui mata-mata air panas di padang gurun, ketika ia sedang menggembalakan KELEDAI ZIBEON ayahnya itu.
c.) Kej. 50:7 =  Lalu berjalanlah Yusuf ke sana untuk menguburkan ayahnya, dan bersama-sama dengan dia berjalanlah semua PEGAWAI FIRAUN, para tua-tua dari istananya, dan semua tua-tua dari tanah Mesir.

Jika Kristen bersikukuh atas keyakinannya, bahwa malaikat Tuhan adalah Tuhan sendiri, dan tidak mengisyaratkan bahwa malaikat Tuhan itu adalah wakil atau utusan dari Tuhan. Maka dari tiga contoh ayat diatas, tentunya Kristen pun harus meyakini pula bahwa hamba Abraham adalah Abraham, keledai Zibeon adalah Zibeon dan pegawai Firaun adalah Firaun itu sendiri. Tetapi apakah keyakinan Kristen selama ini tentang Malaikat Tuhan adalah Tuhan, bisa diterapkan pada tiga ayat diatas ? Tentu saja tidak, mereka akan menolaknya dengan segala alibi yang ada.


Adanya keterbatasan manusia untuk berbicara dan mengambarkan tentang Dzat yang Maha Gaib, maka untuk menjelaskan hal-hal yang dipandang  diluar nalar manusia, mau tidak mau untuk bisa disesuaikan dengan nalar manusia harus menggunakan istilah yang dikenalnya tanpa harus mempermainkan akal dalam membatasi Diri-Nya. Dan disini jelas, bahwa Kristen adalah para pemain akal yang telah melebih-lebihkan tentang Allah, yang justru hal itu telah menggiring mereka kepada keyakinan yang serupa dengan para penyembah berhala lainnya.

Didalam Islam, Allah tidaklah serupa dengan makhluk-Nya dalam hal apapun (Qs. 42:11), karena disaat Dia serupa dengan makhluk-Nya, tentunya kekurangan yang ada pada makhluk akan ada pada Diri-Nya, yang dengan hal itu akan melahirkan ketergantungan Allah kepada sesuatu dan adanya kesetaraan dengan ciptaan-Nya sendiri. Padahal, Allah sendiri tidak bergantung kepada sesuatu apapun dan segala sesuatu, justru selain Allah semuanya bergantung kepada-Nya (Qs. 112:2 dan 4).

Berpikir tentang Allah, yakni memikirkan Dzat Allah tidak selayaknya untuk dilakukan. Sebab apabila seorang hamba itu berpikir, maka dia berpikir dengan apa yang tergambar oleh akalnya dan apa yang terbetik dalam benaknya dari hal-hal yang terlihat, terdengar, dan diketahui. Sedangkan Allah berada di atas itu semua. Tidak layak bagi seorang pun untuk memikirkan Dzat Allah, sebab tatkala ia menggambarkan sesuatu tentang Allah, maka Allah berbeda dengan apa yang ia gambarkan dan cukup bagi kita berpikir tentang makhluk-makhluk-Nya, dan tentang kekuasaan-Nya yang luar biasa. Mengenal Allah, Pencipta alam semesta ini bukanlah dengan memikirkanj bagaimana bentuk atau rupa-Nya. Namun, dengan mengenal ciptaan-Nya kita akan mengenal sifat-sifat-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar