Rabu, 14 Juni 2017

Penyebab Yahudi Mengharapkan Mesias


Oleh : Sang Misionaris.


Pendahuluan.
Kata Messiah dalam bahasa Aram adalah mesiha, yang jika dalam bahasa Ibrani adalah Mashiach. Di zaman purbakala, istilah tersebut biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai Christos, yang dalam bahasa Latin disebut Christus, sedangkan pada bahasa Inggris adalah Christ. Semua kata itu, secara literal berarti orang yang diurapi. Mesias biasanya mengacu pada seseorang yang di inisiasi ke dalam pelayanan Tuhan yang diurapi dengan minyak.1 Adapun gagasan tentang makhluk yang tidak berdosa, ilahi atau semi ilahi, yang akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi dosa, semua itu merupakan murni dari konsep Kristen yang tidak memiliki dasar sama sekali dalam pemikiran Yahudi. Sayangnya, konsep Kristen tersebut telah begitu tertanam dalam kata bahasa Inggris, yakni Messiah, sehingga kata bahasa Inggris ini tidak dapat lagi digunakan untuk merujuk pada konsep Yahudi.2



Pada zaman purba, pengurapan diyakini sebagai satu-satunya cara dalam menunjukkan seorang pemimpin, yang diyakini telah mendapatkan pertolongan dari Yhwh. Misalnya, saat pengangkatan imam besar.3 Pengurapan sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum di Timur Dekat Kuno, seperti di wilayah Babilonia dan Asyur, yang secara simbolik dituangkan ke atas kepala pengantin wanita dengan menggunakan minyak wijen. Selain untuk imam, pengurapan pun dilakukan kepada seorang yang akan diangkat menjadi raja, yang hal tersebut secara khusus hanya terdapat pada kebiasaan orang Yahudi saja,4  dan bahkan, seorang nabi pun diurapi.5

Berkaitan tentang Mesias, hingga kini, Yahudi masih mempunyai pengharapan terhadap Mesias, tanpa pernah menyinggung nama dari sosok seorang Mesias tersebut, baik secara eksplisit maupun implisit. Namun di sisi lain, Kristen telah meyakini bahwa seorang Mesias tersebut adalah Yesus, yang secara eskatologis, kelak Yesus akan datang kembali ke dunia ini. Adanya pengharapan tersebut, sebenarnya tidak terlepas dari kondisi Israel saat itu, yang telah mengalami segala bentuk penindasan dan juga ketimpangan sosial di zaman Romawi. Berabad-abad lamanya, psikologis Israel tergoncang karena berbagai kondisi buruk yang menimpa mereka sebagai bangsa yang selalu dijajah, yang pada akhirnya, mereka mengharapkan adanya seseorang yang mampu melepaskan segala penderitaan mereka, namun tidak pernah kunjung datang. Kondisi mereka semakin bertambah parah dengan tidak adanya lagi seorang Nabi di antara mereka, yang menjadi penghubung langsung antara Yhwh dengan mereka. Maka, di saat mereka melihat segala kelebihan yang dimiliki oleh Yesus, ada beberapa orang Yahudi yang merasa terpukau dan mengira, jika dia adalah seorang Mesias yang selama ini diharapkan untuk membentuk kerajaan sebagaimana kerajaan Daud dan membebaskan mereka dari segala bentuk penjajahan. Sebagai bentuk legitimasi atas keyakinan tersebut, mereka mencari berbagai ayat dalam Perjanjian Lama, yang kemudian ditafsirkan dan dihubungkan dengan Yesus, demi membenarkan dia sebagai seorang Mesias.


Latar Belakang Yang Melahirkan Pengharapan Terhadap Mesias.
Sudah menjadi ciri khas, jika bangsa Israel selalu ingkar janji. Israel berjanji kepada Yhwh untuk menjadikan Yhwh sebagai satu-satunya Tuhan mereka, tetapi ternyata Israel malah mengikuti Tuhan dari bangsa lain. Mereka berjanji untuk setia menyembah kepada Yhwh, namun janji tersebut malah mereka ingkari, dan akhirnya dihukum oleh Yhwh, lalu bertobat, dan berjanji kembali. Terus dan menerus, mereka mengulangi perbuatan tersebut.6 Di kala Israel kerap dijajah oleh bangsa lain yang menyembah berhala, yang menerapkan sistem imperial, akhirnya mereka tergoda untuk mengikuti bangsa lain dan memaksa Samuel untuk berdoa kepada Yhwh, supaya Israel diberikan seorang raja sebagaimana bangsa lain.7 Di saat Saul telah diangkat menjadi raja bagi mereka, ternyata Saul tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Yhwh,8 sehingga pada akhirnya Daud menjadi raja Israel untuk menggantikan Saul. Pada masa Daud menjadi raja, dia telah berhasil menyatukan kerajaan Utara (Israel) dengan kerajaan Selatan (Yehuda) menjadi satu kerajaan dibawah pimpinan Daud.9 Padahal sebelumnya, di antara mereka selalu terjadi perang saudara,10 yang tentunya banyak memakan korban di kedua belah pihak. Selain itu, setelah Salomo menjadi raja yang menggantikan ayahnya, yaitu Daud, pihak kerajaan Utara dan Selatan mengalami berbagai kemakmuran, suka cita dan keamanan.11 Bahkan saat Salomo menjadi raja, kejayaannya mulai menggema saat dia membangun Rumah Tuhan,12 dan juga istana beserta isinya yang begitu megahnya.13 Namun tidak disangka, jika kemakmuran, keamanan, dan kebahagiaan yang dirasakan oleh Israel pada saat Salomo menjadi raja, ternyata kondisi tersebut tidak selamanya bisa dinikmati oleh Israel. Hal tersebut terjadi, karena adanya persoalan yang merundung kerajaan Salomo.

Berabad-abad lamanya, Israel menjadi bangsa yang tertindas, yang selalu menjadi kaum yang dijajah oleh bangsa pagan, seperti bangsa Babel, Persia, Romawi. Di masa Romawi, para Imam berlomba-lomba untuk menjadi imam besar dan termasuk orang yang terdekat dengan pihak kerajaan Romawi. Keadaan tersebut, akhirnya memicu adanya intrik dan pertikaian internal di kalangan para imam. Horsley mencatat : “Yudea diperintah oleh kaum bangsawan Yerusalem, terutama para imam, dan dikepalai oleh seorang imam besar, namun kini dengan lebih sedikit persaingan dari sebuah sistem kuat pajak petani yang bertanggung jawab atas pendapatan imperial. Tapi di kalangan kaum bangsawan, Yerusalem sendiri masih ada sosok-sosok kuat lainnya, di samping imam besar dan berbagai faksi yang saling bersaing, yang benar-benar memahami kemungkinan tentang adanya rezim imperial yang saling bersaing dan adanya pertikaian secara internal”.14

Pada masa dinasti Seleukus, orang Israel mendapatkan larangan untuk melakukan praktik tradisional di Yudea,15 sunat, pengurbanan di kenisah, ketaatan pada hari Sabat dan perayaan lainnya. Di samping itu, dia pun mengerahkan pasukan besar dan membantai sejumlah penduduk sembari menjarah emas dan barang berharga lainnya di kenisah.16 Di samping adanya penekanan dari bangsa imperial, pihak Yahudi pun mendapatkan penekanan lain dari para Imam yang dikepalai oleh Imam Besar. Kala itu, para imam dan imam besar, dibebaskan dari persoalan pajak. Namun konsekuensinya, mereka harus mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap pemerintah dalam mendukung dan melancarkan berbagai kebijakan pemerintah yang akan diterapkan, sekaligus menambah kas negara. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Seleukus mengembalikan praktik yang telah diterapkan oleh Persia sebelumnya, yakni adanya sokongan secara eksplisit kepada negara-kenisah Yerusalem sebagai instrumen utama dalam dunia imperial.17 Dalam Dinasti Seleukus, para imam lokal Yerusalem diberdayakan untuk memberi berbagai keputusan berdasarkan Torah dan imam besar yang mengepalai dewan ini, yang tentunya imam besar bertanggung jawab penuh kepada dinasti Seleukus.18 Imam besar kala itu, semacam pangeran sekuler yang memiliki otoritas untuk memungut yang tidak hanya perpuluhan bagi kenisah, melainkan juga upeti dari pajak yang menjadi hak raja dan menahan sebagian yang lain untuk kepentingannya.19 Penekanan yang dilakukan oleh para Imam kepada rakyatnya tersebut, seolah-olah mendapatkan hak otoritas dari Torah, yang mau tidak mau, Israel yang berusaha memegang teguh hukum Torah harus mengikutinya, kondisi seperti itu ternyata digambarkan di dalam Sirakh.20 Para imam telah melakukan perbuatan yang sewenang-wenang atas nama Yhwh, yang menjadikan Torah sebagai alat mereka untuk menindas rakyat, yang tentunya hal tersebut adalah sebuah kejahatan besar atas nama agama. Namun, Israel masih tetap saja patuh mengikuti arahan imam yang menggunakan Torah sebagai alatnya, karena mereka meyakini jika kejahatan imam masih dianggap lebih baik daripada kebaikan perempuan sekalipun.21

Peran imam besar dalam suatu dinasti, yang masuk ke dalam elite kenisah, ternyata mempunyai pengaruh yang besar tentang keberlangsungan suatu dinasti, khususnya berkenaan tentang berapa banyak pendapatan yang kelak akan didapatkan oleh suatu imperial dalam menjalankan fungsinya. Dan kepercayaan suatu imperial terhadap imam besar, telah memberikan legalitas secara penuh untuk menikmati segala fasilitas yang ada, selain bisa menumpuk kekayaan bagi dirinya sendiri, meskipun rakyat dan agama harus dikorbankan. Hal tersebut, terbukti saat Antiokhus IV Epifanes sebagai raja Seleukus pada tahun 175 SM. Sang raja baru tersebut sangat membutuhkan pendapatan. Saudara Onias, yaitu Yason, menawarkan kepada raja sebuah kesepakatan : Jika Yason diberi jabatan sebagai imam besar, maka ia akan berupaya untuk meningkatkan upeti dari Yudea kepada Seleukus. Raja menyepakati usulan Yason tersebut. Begitulah, imam besar Yerusalem menjadi pegawai kerajaan Seleukus.22 Kesepakatan tersebut, mencakup pula pendirian sebuah gimnasium di Yerusalem, yang merupakan organ pendidikan fundamental di sebuah kota Yunani.23 Bukan saja Yason, yang memiliki kedekatan dengan imperium, yang pada akhirnya melahirkan bentuk penindasan terhadap rakyat. Dalam memanipulasi jabatan imam besar, Menelaus pun melakukan hal yang sama seperti halnya Yason, dan bahkan upeti yang dijanjikan kepada raja, melebihi apa yang telah dijanjikan oleh Yason sebelumnya,24 selain melahirkan adanya insiden berdarah yang menimpa Onias,25 dan meningkatkan ketidakpuasan rakyat lantaran beban pajak yang semakin bertambah berat.26 Meskipun rezim Seleukus tergantikan oleh Hasmonea, namun karakter imam besar masih tetap sama dengan pendahulunya. Seperti halnya Yohanes Hirkanus yang ditentang oleh Eleazar, menyangkut keabsahan Yohanes dalam memegang jabatan imam besar.27

Pada awalnya, pajak diprakarsai oleh Persia, namun konsep tersebut ternyata diterapkan pula oleh Romawi, dengan menggunakan imam sebagai tangan kanan pemerintah. Bukan saja di zaman Romawi, pajak dianggap sebagai bentuk eksploitasi terhadap ekonomi rakyat, jauh sebelumnya, yakni di masa Nehemia, hal tersebut pun dianggap sama. Dengan adanya pajak yang harus diberikan kepada raja, hal tersebut telah melahirkan ketidakadilan sosial yang merajalela dimana-mana, yang mengakibatkan lahirnya riba guna membayar pajak kepada raja.28 Namun di pihak lain, kaum elite kenisah dibebaskan dari pajak sebagaimana ketentuan dekret imperium kala itu.29 Anak-anak dijadikan budak dan diperkosa, harta mereka digadaikan, yang kemudian disita guna membayar utang kepada kaum elite kenisah. Selain adanya pajak yang wajib diberikan kepada raja, perpuluhan atas nama Taurat, dan adanya riba yang diterapkan oleh para imam,maka tidak mengherankan, jika orang Yahudi melakukan berbagai upaya untuk mencari tambahan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan juga untuk memenuhi kewajiban diatas, dengan cara berjualan di Bait Suci sebagaimana narasi yang terdapat pada Injil Yohanes.30 Yesus, sebagaimana yang dikisahkan pada Injil Yohanes, ternyata melakukan pengusiran kepada para pedagang yang berjualan di Bait Suci, karena apa yang mereka lakukan telah dianggap mencemarkan Bait Suci. Bahkan secara eksplisit, ternyata sikap Yesus tersebut malah memberikan dukungannya terhadap kebijakan yang telah ditetapkan oleh pihak imperial untuk memberikan pajak sebagaimana yang telah ditentukan oleh pemerintah kala itu.31

Ketika Roma kian memperoleh kekuatan, singgasana Hasmonea diperebutkan di antara dua saudara yang saling bersaing, yakni Aristobulus II dan Hirkanus II. Kedua bersaudara itu akhirnya mencapai gencatan senjata, di mana Aristobulus mengambil alih singgasana dan Hirkanus menjabat sebagai imam besar. Namun, keadaan tidak berakhir secara mulus. Seorang teman Hirkanus,32 membujuknya untuk menentang Aristobulus. Namun pada akhirnya, Hirkanus bersama komandan pasukan Romawi, yakni Pompeus, melakukan perlawanan kepada Aristobulus. Awalnya, Pompeus menawarkan untuk mengambil alih secara damai, namun ditolak. Maka, sang jenderal melakukan pengepungan yang mengakibatkan kematian dan kelaparan. Atas peristiwa tersebut, Josephus mencatat, bahwa dengan waktu yang singkat orang Roma telah memungut pajak di atas 10.000 talenta.33 Di tengah berbagai peristiwa tersebut, seorang penyair anonim menggubah serangkaian mazmur yang mengungkapkan dukacita, kemarahan, dan harapan akan pembebasan kepada Yhwh. Beberapa teks tersebut, secara kolektif dikenal sebagai Mazmur Salomo, yang melukiskan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan pengepungan Pompeus dan mengambil alih atas Yerusalem. Persoalan krusial yang terdapat pada Mazmur Salomo adalah ungkapan tertulis paling awal tentang harapan akan seorang Mesias dari keturunan Daud, yang kelak menyelamatkan Yerusalem dari orang Romawi. Hal ini ditemukan dalam Mazmur Salomo 17, yang menurut Embry, bahwa harapan ini bukanlah pusat perspektif penulis tentang berbagai peristiwa sejarah, melainkan puncaknya.34 Selain pada Mazmur Salomo, harapan akan seorang Mesias dari keturunan Daud juga bergema dalam teks Qumran,35 yang menunjukkan adanya sebuah tradisi umum yang memakai teks-teks Alkitabiah terdahulu untuk melukiskan seorang raja di masa depan yang diangkat oleh Yhwh.36 Kerinduan ini, tentu saja terdengar akrab untuk para pembaca dari kalangan Kristen, yang pada akhirnya keyakinan mereka mengarah kepada Yesus. Namun, selama 500 tahun sejak pembuangan, ini adalah bentuk tulisan pertama yang menyangkut harapan tersebut.

Saat terjadi perang saudara antara Hirkanus dan Aristobulus, Herodes dijadikan sebagai Gubernur Galilea oleh ayahnya, yaitu Antipater. Namun, setelah Herodes bersekutu dengan Markus Antonius, dia di angkat sebagai Raja Yudea oleh Senat Roma. Dengan adanya sokongan dari Roma, akhirnya Herodes melakukan pengepungan terhadap Yerusalem. Selama empat bulan, akhirnya ia berhasil menguasai kota itu dan memerintahkan semua Dinasti Hasmonea yang tersisa untuk dibunuh. Pada masa pemerintahannya selama 30 tahun, terjadi berbagai kekerasan, dan menyatakan klaim hujahnya bahwa imperium Romawi telah mengejawantahkan tatanan Ilahi. Maka tidak mengherankan jika Herodes sangat dibenci penduduk setempat, yang garis darahnya adalah orang Edom (yaitu leluhur orang Idumea), sebuah kelompok yang dibenci banyak orang Yehuda.


Reaksi Kaum Makabe Terhadap Penindasan.
Sumber-sumber tentang hal ini berbeda pendapat, tentang berbagai keadaan serta alasan yang berkaitan dengan pembelaan yang gigih dan keras yang dilakukan oleh kaum Makabe atas kenisah dan tradisi keagamaan. Eksekusi atas Onias, bisa jadi dirujuk dalam kitab Daniel 9:26, dan juga Henokh 90:8. Kematiannya, menjadi peristiwa utama bagi semua pihak, yang menulis sebagai tanggapan terhadap pemerintahan Antiokhius IV Epifanes. Dengan alasan : Pertama, Antiokhius mendukung Menelaus selama kurun waktu tersebut. Kedua, Antiokhius telah menyerbu Mesir sebanyak dua kali dalam melawan dinasti Ptomeleus. Pada invansi kedua, saat mendengar rumor tentang mangkatnya raja, Yason, seorang mantan imam besar, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan penyerangan kepada Menelaus (2 Makabe 5:5). Namun serangannya gagal, dan Yason pun melarikan diri dan mati di pembuangan. Para ahli menyajikan berbagai penjelasan atas adanya represi yang dilakukan oleh Anthiokhius.37 Keadaan tersebut berujung pada tampilnya Matatias dan para putranya, yang dipimpin oleh Yudas, yang dikenal sebagai kaum Makabe, dari kota Modein. Boccaccini berkomentar, bahwa oposisi yang tidak terduga itu berasal dari orang-orang yang kebanyakan berdiam di wilayah pedesaan di luar Yerusalem, yang lebih berat menanggung beban pajak.38 Mereka melarikan diri ke pegunungan, di mana mereka telah membentuk satuan tentara gerilya guna melawan Antiokhius IV Epifanes dan para pendukungnya. Boccaccini menambahkan, bahwa kejeniusan kaum Makabe ialah menampilkan diri mereka bukan sebagai pemimpin puak imam saingan lain yang sedang mencari kekuasaan, walaupun mereka berasal dari puak semacam itu. Melainkan, sebagai pembela tradisi nasional yang melawan orang-orang Yunani, dan mengubah perang saudara menjadi perang kemerdekaan dalam melawan para penindas asing.39 Apa yang dilakukan oleh kaum Makabe dalam memegang teguh hukum Taurat, serta melakukan perlawanan kepada bangsa pagan, hal tersebut menempatkan narasi Makabe dalam tradisi Yosia dan juga narasi-narasi tentang perang suci atas nama Yhwh. Pada 1 Makabe, pemberontakan Makabe dilukiskan sebagai era kebanggaan dan kekuatan nasional di mana mereka menghantam orang berdosa dalam marahnya dan Taurat direbut dari tangan orang asing dan dari tangan para raja.40

Saat terjadi konfrontasi dengan musuh, Matatias dan pasukannya mengalami kondisi yang dilematis. Sejak awal, musuhnya mengetahui kebiasaan Matatias yang memegang teguh hukum Taurat. Oleh karena itu, mereka mendesak dengan melakukan penyerangan terhadap Matatias pada hari sabat. Awalnya, Matatias ingin berusaha memegang teguh hukum Taurat, yang tidak akan melakukan perang ataupun melakukan perlawanan terhadap musuh yang menyerangnya di hari sabat, dan untuk itu, mereka lebih rela mati.41 Namun, ketika serangan musuhnya telah menewaskan banyak pasukan Matatias, dan khawatir, mereka pun menjadi binasa karena tidak melakukan perlawanan sama sekali di hari sabat, akhirnya mereka berperang pada hari sabat, alih-alih mati sebagai seorang martir.42 Hukum Taurat yang awalnya dibela, namun pada akhirnya dilanggar pula. Narasi pada 1 Makabe, terlihat penyajian kisah pertempuran antara Yudaisme dan adat istiadat  dari bangsa lain, di mana kaum Makabe dikisahkan sebagai pembela Yudaisme murni (misalnya, 1 Makabe 1:10-15). Namun seperti yang ditunjukkan oleh Erich S. Gruen, bahasa khas yang kemudian digunakan dalam 1 Makabe yang menampilkan musuh bukan sebagai sebuah abstraksi yang bernama Helenisme, melainkan sebagai bangsa-bangsa sekeliling (misalnya, 1Makabe 3:25), sebuah istilah dari tradisi Alkitab pro-imperium yang mengacu pada masyarakat lokal semisal Kanaan dan orang Amon.43

Kisah kemartiran dalam perang atas nama agama atau berperang demi keyakinan yang dianggapnya benar, seperti halnya kisah yang terjadi pada kaum Makabe, telah menaruh sebuah harapan akan adanya kebangkitan, yang sepanjang narasi pada PL belum pernah ada harapan Yahudi mengenai kebangkitan.
Narasi pertama yang mengkisahkan tentang adanya kebangkitan, terdapat pada 2 Makabe 7:21-23, yang berkisah tentang tujuh bersaudara dan ibu mereka yang masing-masing disiksa dan dibunuh di hadapan tatapan mata saudaranya yang masih hidup. Harapan akan kebangkitan tersebut, ternyata muncul kembali pada 2 Makabe, dalam sebuah kisah tentang doa Yudas dan pengumpulan uang untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa bagi para prajurit Yudea yang gugur lantaran pada tiap-tiap orang yang mati itu, mereka menemukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala.44 Harapan akan kebangkitan, ternyata pada teks Septuaginta tidak ditemukan penggunaan istilah tersebut.45 Dari adanya dua kisah tentang harapan atas kebangkitan, 2 Makabe telah menggabungkan tradisi perang suci dengan harapan akan karunia Yhwh setelah kematian, yakni pulihnya kehidupan. Hal tersebut, rupanya menggema dan terus berlanjut, bahkan menjadi keyakinan yang sangat krusial dan juga fundamental atas keyakinan Kristen tentang Yesus, yang diyakini bahwa kebangkitan Yesus telah dinubuatkan sebelumnya, dan akan mengalami kematian selama tiga hari yang pada akhirnya mengalami kebangkitan.46


Kesimpulan.
Israel meyakini, bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan.47 Namun, keyakinan mereka tersebut ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan yang mereka dapatkan, yang justru pada kenyataannya mereka menjadi bangsa yang dijajah oleh bangsa lain. Di saat Daud dan Salomo menjadi raja, Israel menikmati kebahagiaan dan ketentraman sepanjang hidupnya. Meskipun pada akhirnya, mereka harus jatuh ke tangan bangsa lain, yang secara bergantian telah menjajah Israel sampai beratus-ratus tahun lamanya. Penganiayaan dan penekanan  yang tidak berkesudahan tersebut, akhirnya melahirkan harapan kepada seseorang, yang kelak dikenal sebagai Mesias. Mereka berharap dan menantikan Yhwh untuk menepati janji-Nya supaya segera memberikan kepada mereka seorang raja yang berasal dari keturunan Daud.

Komunitas kecil yang bernama kaum Makabe, telah melakukan perlawanan terhadap imperial, meskipun pada akhirnya mengalami sebuah kegagalan. Kegagalan tersebut, ternyata melahirkan teks apokaliptik yang berisi tentang kisah mereka, kekejaman bangsa lain, kebangkitan dan adanya pengharapan terhadap seorang penyelamat yang menggunakan istilah Anak Manusia, yang kelak menjadi raja dari segala raja. Mereka berharap, ia secepatnya datang untuk menerapkan hukum Taurat, memberikan keamanan dan keadilan bagi mereka. Namun pada akhirnya, keyakinan Mesias tersebut terlalu dini untuk diyakini bahwa dia adalah Yesus, padahal sosok yang diharapkan tidak mengalami kematian apalagi di salib, seperti halnya seorang pelaku kejahatan.



Catatan Kaki :
1. Keluaran 29:7; 1 Raja-raja 1:39; 2 Raja-raja 9:3.
2. http://www.jewfaq.org/m/mashiach.htm di akses oleh penulis pada tanggal 12 Juni 2017.
3. Keluaran 29:4-8.
4.1 Samuel 10:1.
5. 1 Raja-raja 19:15-16; Yesaya 61:1.
6. Untuk mengetahui bagaimana Israel berulang kali diingatkan oleh Yhwh dan berulang kali pula dihukum karena sikap menduanya Israel, bisa di simak kisahnya pada Hakim-hakim pasal 3 sampai 6.
7. Samuel 8:4-19.
8. 1 Samuel 15:10-11.
9. 2 Samuel 5:3-5.
10. 2 Samuel 2:12-32.
11. 1 Raja-raja 4:20-25.
12. 1 Raja-raja 6:1-38.
13. 1 Raja-raja 7:1-51.
14. Horsley, Richard A. Scribes, Visionaries, and the Politics of Second Temple Judea.
15. Dalam Kamus Browning, Yudea dikatakan sebagai bentuk Latin dan Yunani untuk Yehuda. Pada era Makabe, Yudea merupakan negara mandiri (1 Makabe. 5:45). Kadang-kadang Yudea pun diartikan seluruh Palestina, yang menjadi wilayah kekuasaan Herodes Agung (37-34 SM).
16. 1 Makabe 1: 20-24; 2 Makabe 5:15-18.
17. Horsley, Richard A. Scribes, Visionaries, and the Politics of Second Temple Judea.
18. Perdue, Leo G. Sribes, Sages anda Seers : The Sage in the Eastern Mediterranean World.
19. Boccaccini, Gabriele. Beyond the Essene Hypothesis : The Parting of the Ways Between Qumran and Enochic Judaism.
20. Sirakh 7:29.
21. Sirakh 42:14.
22. 2 Makabe 4:8-10.
23. Vanderkam,James C. From Joshua to Caiaphas : High Priests After The Exile.
24. 2 Makabe 4:24-25.
25. 2 Makabe 4:34.
26. Boccaccini, Gabriele. Roots of Rabbinic Judaism : An Intellectual History, from Ezekiel to Daniel.
27. Saldarini, Anthony J. Pharisees, Scribes, and Sadducees in Palestinian Society. Mengingat kekuasaan populer yang dimiliki kaum Farisi, setelah kejadian itu, kata Josephus, “bertumbuh kebencian rakyat kepada Yohanes dan anak-anaknya”. (Antiquities of the Jews)
28. Nehemia 5:1-5.
29. Ezra 7:24.
30. Yohanes 2:14-16.
31. Matius 22:21; Markus 12:17; Lukas 20:25.
32. Yaitu Antipater, orang Idumea yang merupakan seorang ayah dari Herodes Agung.
33. Antiquities of the Jews.
34. Embry, Brad. The Psalms of Salomon and the New Testamen : Intertextuality and the Need for a Re-Evaluation.
33. Collins, John J. The Scepter and the Star.
35. Atkinson, Kenneth. On the Herodian Origin of Militant Davidic Messianism at Qumran : New Light From Psalm of Salomon 17.
36. Vanderkam, James C. From Joshua to Caiaphas : High Priests after the Exile.
37. Boccaccini, Gabriele. Roots of Rabbinic Judaism : An Intellectual History, from Ezekiel to Daniel.
38. Idem.
39. 1 Makabe 2:44, 48.
40. 1 Makabe 2:32-38.
41. 1Makabe 2:39-41.
42. Heritage and Hellenism : The Reinvention of Jewish Tradition.
43. 2 Makabe 12:43-44.
44. Anastasis hanya digunakan di tempat lain dalam Septuaginta hanya mengacu pada bangkit dari duduk, Ratapan 3:36; Daniel 11:20; Zefanya 3:8.
45. Misalnya sebagaimana yang terdapat pada Matius 12:39,16:4. Rupanya, ayat semisal yang terdapat pada Matius pasal 12 dan 16, seolah-olah mendapatkan legitimasi tersendiri dengan adanya narasi yang terdapat pada Matius 22:31-32. Meskipun pada kenyataannya, kebangkitan atas orang mati pada Matius pasal 22, tidak ditemukan ayat paralelnya pada Perjanjian Lama. Hal tersebut, semakin memperjelas bahwa keyakinan tentang adanya kebangkitan didapatkan dari teks apokaliptik dan apokrifa.
46. 2 Samuel 7:1-29; 1Tawarikh 17:1-27; Mazmur 132:1-18.
47. Ulangan 7:6-11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar